Ketua Kadin Indonesia M Arsjad Rasjid P.M Sampaikan Pidato dalam China-ASEAN Business Leader di Nanning

Ketua KADIN Indonesia M.Arsjad Rasjid P.M menyampaikan pidato online pada The 18th China-ASEAN Business Leaders Forum & Special Meeting on the 30th Anniversary of China-ASEAN Dialogue Relations yang berlangsung sukses di Nanning.

NANNING–The 18th China-ASEAN Business Leaders Forum & Special Meeting dibuka Jumat (10/9) lalu di Nanning Guangxi, Tiongkok.

Sejak China-ASEAN Business Leaders Forum tahun ini, kamar dagang dan industri dari 10 negara ASEAN telah menjadi co-sponsor China-ASEAN Business Leaders Forum.

Untuk lebih lanjut mengkonsolidasikan konsep “Jointly Consulting, Co-sponsoring and Sharing Benefits” dari The China-ASEAN Business Leaders Forum & Special Meeting.

Dalam kerangka KTT, The 18th China-ASEAN Business Leaders Forum & Special Meeting on the 30th Anniversary of China-ASEAN Dialogue Relations juga diselenggarakan Jumat (10/9) di Nanning. 

Chairperson of the China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT) & Director of the Organizing Committee of CABIS Gao Yan dan Chairman of the Chinese People’s Political Consultative Conference of Guangxi Zhuang Autonomous Region of China Sun Dawei hadir dan menyampaikan pidato dalam forum tersebut.

Deputy Prime Minister of Thailand sekaligus Minister of the Ministry of Commerce of Thailand Jurin Laksanawisit serta pimpinan utama kamar dagang dan industri 10 negara ASEAN juga menyampaikan pidato secara online.

Ketua KADIN Indonesia M Arsjad Rasjid P.M dalam pidato onlinenya menyatakan selama hampir satu setengah tahun ini, Indonesia telah melalui berbagai macam kesulitan dan rintangan.

“Meminjam istilah “Kami sedang berperang dengan Covid-19”. Namun kita hanya bisa menang dan tidak boleh kalah. Kita semua harus melakukan kerja sama yang kuat dan kokoh. Semua negara dan rakyat harus bersatu padu. Maka dengan demikian barulah dapat memenangkan seluruh tantangan ini. Juga memenangkan perang menghadapi pandemi ini,” ujarnya.

The 18th China-ASEAN Business Leaders Forum & Special Meeting on the 30th Anniversary of China-ASEAN Dialogue Relations yang berlangsung sukses di Nanning.

M.Arsjad Rasjid P.M menambahkan dalam kegiatan anti-epidemi,  Indonesia telah menunjukkan kinerja yang baik, proses berjalan dengan tertib serta ekonomi mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Pekerjaan di bidang vaksin juga terus berkembang. Namun, dia juga mengakui masih banyak masalah yang untuk sementara waktu sulit diselesaikan. Seperti penguatan ketahanan nasional, pemulihan produktivitas dan penyesuaian ekologi ekonomi.

Dia menekankan dalam hal ketahanan nasional, anggaran medis Indonesia saat ini sekitar 2,9% dari PDB. Merupakan yang terendah di antara semua negara ASEAN.

Selain itu, sumber energi terbarukan seperti energi geotermal, energi matahari, energi angin dan hydropower hanya menyumbang 2% dari output energi.

Dalam hal produktivitas, hanya 21% industri manufaktur Indonesia yang telah melakukan upgrade ke Industri 4.0. Dari aspek teknologi informasi dan komunikasi, jurang antara pekerja trampil dan tidak trampil akan mencapai 9 juta orang di tahun 2030.

Dari aspek ekosistem ekonomi, biaya ekspor Indonesia menempati urutan ke-136 dari 188 negara. Waktu ekspor menempati urutan ke-97 dari 188 negara dan tingkat infrastruktur logistik berada diurutan ke-46 dari 160 negara.

          M.Arsjad Rasjid P.M menyatakan dalam menghadapi tantangan tersebut, Kamar Dagang dan Industri Indonesia telah mengedepankan empat poin utama pembangunan: Satu, kerangka sistem medis, yaitu bagaimana membangun kerangka sistem medis kita; Dua, ekonomi nasional dan regional, yang adalah, bagaimana mendukung konstruksi ekonomi nasional dengan memperkuat konstruksi ekonomi regional. Seperti mendorong kewirausahaan, mendorong organisasi perdagangan internasional. Ini juga merupakan pekerjaan yang sedang dilakukan oleh Kamar Dagang dan Industri Indonesia.

Kamar Dagang dan Industri Indonesia berharap dapat menjajaki berbagai peluang baru dalam forum tersebut untuk membawa pertumbuhan ke industri kunci strategis serta menyerap lebih banyak investasi. Sehingga mampu beradaptasi dengan perubahan situasi ekonomi di era pasca-epidemi. Melalui pendirian perusahaan joint-venture untuk memfasilitasi pertukaran ilmu dan teknologi serta memastikan stabilitas ekspor. Demi memberikan perlindungan bagi industri yang sedang berkembang.

Melalui penyelenggaraan program pelatihan dan pertukaran tenaga professional, kami akan menciptakan lingkungan investasi yang lebih sesuai dan melonggarkan pembatasan yang relevan untuk meningkatkan pembangunan kapasitas produksi di industri utama.

Arshad Rajid menyatakan bahwa kami orang Indonesia menyebut upaya ini “Indonesia Berkelanjutan”. Kami juga menyambut hangat para investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Di era pasca-epidemi, bukan hanya Indonesia, Tiongkok dan ASEAN semuanya menghadapi tantangan bersama bagaimana memulihkan ekonomi. “Kunci masalahnya terletak pada bagaimana mengatasi berbagai kesulitan melalui jalan kerja sama yang saling menguntungkan. Saya meyakini hubungan Tiongkok-ASEAN akan stabil seperti sebelumnya dan akan terus berkembang di masa mendatang. KADIN menyatakan kesiapannya untuk lebih mempererat hubungan persahabatan juga meningkatkan kerjasama saling menguntungkan dengan seluruh mitra kerjasama,” kata M.Arsjad Rasjid P.M. idn/din

Sukris Priatmo

Sukris Priatmo

Tulis Komentar

WhatsApp