Kemendag Ajak Pelaku Usaha Manfaatkan Hasil Perundingan AFAS dan ATISA

Jerry Sambuaga. (Foto ist)

BEKASI – Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengajak pemangku kepentingan memanfaatkan hasil-hasil perundingan perdagangan, seperti ASEAN Framework Agreement On Services (AFAS) dan ASEAN Trade In Services Agreement (ATISA), khususnya dalam pemulihan ekonomi Indonesia pascapandemi Covid-19.

Pernyataan ini disampaikan Jerry saat menghadiri sosialisasi AFAS paket ke-10 dan ATISA di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (12/4). Sosialisasi diikuti pelaku usaha, dinas yang membidangi perdagangan di daerah, pemangku kepentingan dan media.

Hadir Anggota Komisi VI DPR RI Daeng Muhammad dan Rieke Diah Pitaloka, Staf Ahli Menteri Perdagangan Bidang Hubungan Internasional Arlinda selaku moderator pada sesi diskusi serta Direktur Perundingan Perdagangan Jasa Iskandar Panjaitan dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bekasi Muchlis selaku sarasumber.

“Sosialisasi ini bertujuan untuk memastikan dan menegaskan manfaat dari hasil perundingan perdagangan. Pemerintah telah menyelesaikan 22 negosiasi perdagangan dengan negara mitra dagang. Dari perundingan yang sudah selesai tersebut, harus melalui proses ratifikasi di DPR RI, khususnya komisi VI agar dapat diimplementasikan dan dimanfaatkan oleh pelaku usaha,” jelas Jerry.

Jerry mengatakan, saat ini pemerintah juga sedang dalam proses 11 perundingan perdagangan. Selain itu, pemerintah juga sedang mengeksplorasi 17 perundingan perdagangan. Dari 17 perdagangan tersebut mayoritas merupakan pasar nontradisional.

“Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo yang memberikan mandat kepada Kementerian Perdagangan untuk mempertahankan pasar tradisional dan membuka pasar nontradisional,” katanya.

Jerry menambahkan, ekspor Indonesia tidak hanya menekankan pada barang, tetapi juga sektor jasa. Salah satu sektor jasa yang tumbuh signifikan berhubungan dengan industri digital dan kesepakatan AFAS dan ATISA sangat mempengaruhi perkembangan dan implementasi investasi industri digital di dalam negeri.

“Pelaksanaan AFAS dan ATISA akan memberikan berbagai manfaat bagi Pemerintah, konsumen, dan pelaku usaha di bidang jasa di dalam negeri. Manfaat tersebut di antaranya peningkatan perdagangan jasa Indonesia yang potensial ke negara anggota ASEAN yang selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan daya saing bisnis jasa Indonesia di tingkat regional dan global,” tutup Jerry.

Sementara Rieke menyampaikan, perjanjian perdagangan internasional menjadi hal penting bagi Indonesia. Di era globalisasi dan pasar bebas, Indonesia tidak bisa sendiri. Indonesia harus menjalin kerja sama dengan negara lain yang bisa memberikan penghidupan yang lebih baik.

”Kita perlu menjalin kerja sama perdagangan yang bukan berorientasi pada keuntungan secara ekonomi pihak tertentu. Dengan kerja sama, Indonesia dan ASEAN dapat bangkit dari Covid-19,” tandas Rieke.

Muchlis menambahkan, hasil perundingan AFAS dan ATISA menjadi motivasi pemerintah daerah dalam menciptakan inovasi dan terobosan baru untuk meningkatkan perekonomian, khususnya di wilayah Kabupaten Bekasi.

Saat ini Indonesia telah memasuki era masyarakat ekonomi ASEAN dan perdagangan bebas. Dalam masa tersebut, persaingan di dunia usaha juga semakin meningkat. Untuk itu, penyedia jasa harus mempersiapkan tenaga teknis agar lebih kompeten.

 “Indonesia memiliki tenaga kerja yang beragam, baik dari keahlian maupun profesionalitas. Keberagaman tersebut membutuhkan panduan yang jelas agar tercipta standardisasi kompentensi secara global. Di sisi lain, kami mendorong pelaku usaha di kawasan Bekasi untuk berinovasi dan berkembang. Diharapkan adanya sosialisasi ini dapat menciptakan peluang yang lebih luas bagi pelaku usaha Indonesia, khususnya Kabupaten Bekasi di negara ASEAN,” terang Muchlis.

Sementara Iskandar menyampaikan mengenai manfaat dan peluang ekspor jasa ke negara ASEAN melalui perjanjian AFAS dan ATISA. “Perjanjian-perjanjian internasional yang ada saat ini, jangan hanya dilihat sebagai ancaman melainkan peluang untuk bersaing,” jelasnya

Sektor jasa memiliki peran penting sebagai penggerak perekonomian suatu negara. Menurut The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), sektor jasa berkontribusi dalam penciptaan lapangan kerja, penarik investasi asing, dan penyumbang proses produksi sektor lainnya, termasuk sektor jasa itu sendiri.  

Pada 2019, sektor jasa memiliki kontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 59 persen pada rata-rata ekonomi negara anggota Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Pada 2019, sektor jasa Indonesia memiliki kontribusi paling besar terhadap PDB yaitu 58 persen. ***

Vitus Dotohendro Pangul

Vitus Dotohendro Pangul

Tulis Komentar

WhatsApp