Kebanjiran Korban Meninggal Covid-19, India Kremasi Massal

NEW DELHI(IM) — Warga Delhi Nitish Kumar terpaksa menyimpan jasad ibunya di rumah selama hampir dua hari sambil mencari ruang di krematorium kota tersebut. Ini menandakan banjir kematian di ibu kota India tempat kasus Covid-19 yang semakin mengganas.
Pada Jumat (23/4) Kumar mengkremasi ibunya, yang meninggal karena Covid-19, di tempat kremasi massal darurat di sebuah tempat parkir sebelah krematorium di Seemapuri, timur laut Delhi. “Saya mencari ke sana-sini tetapi semua krematorium mempunyai berbagai alasan, salah satunya kehabisan kayu,” kata Kumar.
India mencatat jumlah kasus harian Covid-19 tertinggi di dunia yakni 314.835 kasus pada Kamis (22/4), dengan gelombang kedua pandemi menghancurkan infrastruktur kesehatan yang lemah. Di Delhi saja, di mana rumah sakit mengalami krisis pasokan oksigen, lonjakan kasus harian Covid-19 mencapai 26.000.
Mereka yang kehilangan orang terkasih di ibu kota India, tempat 306 orang meninggal karena Covid-19 dalam sehari, beralih ke fasilitas darurat yang melakukan penguburan massal dan kremasi lantaran krematorium kewalahan.
Jitender Singh Shunty, penyedia layanan medis Shaheed Bhagat Singh Sewa Dal, mengatakan hingga Kamis malam 60 jasad telah dikremasi di fasilitas darurat di lapangan parkir dan 15 jasad lainnya masih menunggu.
“Tak seorang pun di Delhi pernah menyaksikan pemandangan demikian. Anak-anak yang berusia 5 tahun, 15 tahun, 25 tahun sedang dikremasi. Pengantin baru dikremasi. Berat untuk melihatnya,” ungkap Shunty dengan mata berkaca-kaca.
Shunty, yang mengenakan alat pelindung dan sorban kuning cerah, mengatakan tahun lalu selama puncak gelombang pertama Covid-19 jumlah maksimal jasad yang ia bantu kremasinya adalah 18 jasad sehari, dengan rata-rata 8-10 per hari. Menurutnya, pada Selasa 78 jasad dikremasi di satu tempat saja.Kumar bercerita ketika ibunya, yang seorang petugas kesehatan pemerintah, terbukti positif Covid-19 10 hari yang lalu, otoritas tidak mendapatkan tempat tidur rumah sakit untuknya. “Pemerintah tidak melakukan apa-apa. Hanya kamu yang bisa menyelamatkan keluargamu. Kamu sendiri,” katanya.
Sementara itu, enam rumah sakit di ibu kota India, New Delhi kehabisan oksigen. Para dokter mengatakan, rumah sakit lain memiliki persediaan oksigen untuk beberapa jam.
Sejumlah pasien Covid-19 meninggal dunia karena tidak mendapatkan oksigen. Sementara lebih dari 99 persen dari semua tempat tidur di perawatan intensif di seluruh rumah sakit telah penuh.
Staiun televisi NDTV Delhi melaporkan, otoritas negara menghentikan pengiriman tanki oksigen ke negara bagian lain. Sementara beberapa fasilitas dituduh menimbun persediaan oksigen.
Politisi India Saurabh Bharadwaj, yang dirawat di rumah sakit Delhi karena Covid-19, memposting permohonan bantuan dalam bahasa Hindi di Twitter. Dia mengatakan, persediaan oksigen di rumah sakit tempat dia dirawat hanya memiliki suplai oksigen untuk tiga jam ke depan.
“Banyak orang yang bergantung pada oksigen dan tanpa oksigen, orang-orang ini akan mati, seperti ikan mati jika tidak ada air. Saatnua bagi semua untuk bekerja sama,” ujar Bharadwaj.
BBC melaporkan, Delhi dikenal memiliki salah satu fasilitas perawatan kesehatan terbaik di India. Tetapi rumah sakit di Delhi mulai bertekuk lutut oleh lonjakan kasus virus korona.
Kekurangan suplai oksigen membuat situasi di rumah sakit menjadi tidak terkendali. Seorang dokter yang bekerja di rumah sakit pemerintah di selatan Indiamengatakan ketegangan semakin meningkat.***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp