Kasus Bansos Covid-19, Sekjen dan Dirjen Kemensos Ngaku Pernah Terima Sepeda Bromton

Rekontruksi kasus korupsi bansos pandemi Covid-19

JAKARTA (IM)  – Sekretaris Jenderal ( Sekjen) Kementerian Sosial Hartono Laras serta Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial, Pepen Nazaruddin,mengakui pernah menerima sepeda merek Brompton.

Pengakuan itu disampaikan saat bersaksi di persidangan untuk dua terdakwa penyuap mantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara, yakni Harry Van Sidabukke dan Ardian Iskandar Maddanatja, di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (8/3).

“Kami memang Agustus (2020) itu menerima Brompton, yang mengantar itu sopirnya Adi,” kata Hartono saat sidang, Senin (8/3).

Adapun Adi yang dimaksud merupakan Adi Wahyono selaku Kabiro Umum Sekretariat Jenderal Kemensos sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Satuan Kerja Kantor Pusat Kemensos tahun 2020 dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pengadaan bansos Covid-19.

Adi juga menjadi tersangka di kasus ini. Hartono mengaku tak mengetahui harga dari sepeda yang diterimanya tersebut. Sebab, sepeda itu sudah diminta untuk dikembalikan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Jaksa penuntut umum (JPU) pada KPK Muhammad Nur Azis kemudian menanyakan keperluan Hartono menerima sepeda tersebut.

“Ya di bulan Agustus itu kita bersepeda,” ucap Hartono.

“Ada tidak kaitan dengan jabatan saudara?” tanya jaksa Azis.

 “Tidak,” kata Hartono menanggapi.
“Memang tidak ada sepeda dari kantor?” tanya jaksa Azis.

“Tidak ada yang di kantor,” ungkap Hartono.

Sementara itu, menyoal uang, Hartono mengungkapkan bahwa Adi pernah mau memberi uang. Akan tetapi, ia mengaku tidak menerimanya. Di sisi lain, Pepen juga mengaku menerima sepeda Brompton dari Adi.

“Iya (terima sepeda Brompton) dari Pak Adi KPA,” kata Pepen dalam sidang yang sama. Namun, Pepen menegaskan, ia menolak uang yang berkaitan dengan kasus bansos Covid-19 ini.

Adapun Harry dan Ardian didakwa menyuap Juliari dan sejumlah pejabat di Kementerian Sosial terkait kasus dugaan suap bansos penanganan pandemi Covid-19 untuk wilayah Jabodetabek di tahun 2020. Harry didakwa memberi suap sebesar Rp 1,28 miliar, sedangkan Ardian didakwa memberi uang sejumlah Rp 1,95 miliar. Menurut JPU, uang tersebut diberikan terkait penunjukkan kedua terdakwa sebagai penyedia bansos Covid-19 pada Kemensos tahun 2020.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp