Jual Obat Covid-19 Hingga 4 Kali Lipat dari HET, Dua Penjual Ditangkap Polisi

Polda Metro Jaya tangkap penjual obat di atas harga eceran tertinggi.

JAKARTA – Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menangkap dua orang penjual obat Oseltamivir 75 miligram yang menjual obat di atas harga eceran tertinggi (HET). Oseltamivir 75 miligram digunakan untuk pasien yang terinfeksi virus Covid-19.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus menyatakan, dua pelaku tersebut berinisial N dan MPP.

“MPP ini yang membeli obat dan menjual ke N dengan harga dua kaki lipat, setelah itu MPP yang menawarkan ke masyarakat melalui online,” kata Yusri kepada wartawan, Jumat (9/7).

Seperti diketahui bahwa Kementerian Kesehatan telah menetapkan HET per kotak Olseltamivir seharga Rp 260.000. Artinya, harga per 10 kotak Oseltamivir adalah Rp 2,6 juta. Namun, N menjual 10 kotak dengan harga Rp 8,4 juta sampai Rp 8,5 juta.

 “Ada kenaikan keuntungan yang ia peroleh sampai empat kali lipat karena tahu ini langka obatnya,” pungkas Yusri.

Kini, kedua pelaku disangkakan Pasal 107 Juncto Pasal 29 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2018 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Sebelumnya, polisi telah menutup salah satu toko obat berinisial SE dan menangkap satu orang berinisial R di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, karena kedapatan menjual obat di atas HET.

“Sudah kami tutup sekarang ini, kami segel dengan police line. Sebagai contoh buat (pedagang nakal) yang lain. Biar yang lain stop,” kata Yusri dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (6/7) lalu.

Yusri kembali menegaskan kepada penjual obat untuk mengikuti aturan harga yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. Terlebih di tengah situasi sulit akibat pandemi COVID-19 saat ini.

“Kalau memang sudah ditentukan oleh pemerintah tentang harga-harga eceran tertinggi, ya, tolong ikuti itu. Jangan menyusahkan, saya katakan lagi, jangan menyusahkan masyarakat,” ujar Yusri.

Sebelumnya, penjual berinisial R tersebut diketahui menjual obat jenis Ivermectin dengan harga Rp 475.000 per kotak atau jauh dari harga eceran tertinggi yang ditetapkan Kemenkes, yaitu sebesar Rp 7.500 per tablet atau Rp 75.000 per kotak.

Kenaikan harga tersebut karena tingginya permintaan dari konsumen terhadap obat jenis Ivermectin yang penggunaannya harus berdasarkan resep dari dokter. Tak hanya itu, pihak yang boleh menjual obat jenis itu juga haru mengantongi izin berupa Surat Tanda Registrasi Tenaga Teknis Kefarmasian. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marives) Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya meminta Kabareskrim Komjen Agus Andrianto menindak tegas oknum yang mempermainkan harga obat-obatan untuk terapi pasien Covid-19.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp