Jaksa KPK akan Beberkan Fakta Suap Nurhadi dan Menantunya

Mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nuhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono divonis 6 tahun penjara.

JAKARTA – Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan, dalam surat tuntutan pihaknya bakal membeberkan secara gamblang fakta terkait suap dan gratifikasi yang diterima mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nuhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono.  Hal itu sekaligus menjawab seluruh bantahan Nurhadi maupun tim kuasa hukumnya.

“Kami juga telah menyiapkan uraian fakta terkait bantahan para terdakwa dan tim (Penasihat Hukum) PH-nya selama proses persidangan,” kata Jaksa Takdir Suhan, Selasa (2/3) sore nanti.

Namun ketika ditanya wartawan apakah Nurhadi akan dituntut hukuman maksimal? Jaksa Takdir justru enggan menjawab secara gamblang. Takdir mengatakan, tim Jaksa akan melayangkan tuntutan sesuai seluruh fakta yang terungkap di persidangan.

“Tim JPU dalam surat tuntutan yang nantinya dibacakan tentunya mempertimbangkan seluruh fakta-fakta di persidangan sesuai alat bukti sebagaimana kami telah hadirkan di depan majelis hakim,” tuturnya.

Nurhadi dan menantunya, Rezky Herbiyono menjalani sidang tuntutan, Selasa (2/3). Nurhadi dan menantunya bakal dituntut atas kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengurusan perkara di MA.

Nurhadi dan Rezky Herbiyono didakwa secara bersama-sama menerima suap sebesar Rp45.726.955.000. Uang suap Rp45,7 miliar itu diduga berasal dari Direktur Utama (Dirut) PT Multicon Indrajaya Terminal (PT MIT), Hiendra Soenjoto.

Uang yang diberikan Hiendra tersebut untuk mengupayakan Nurhadi dan Rezky Herbiyono dalam memuluskan pengurusan perkara antara PT MIT melawan PT Kawasan Berikat Nusantara (PT KBN) terkait gugatan perjanjian sewa menyewa depo kontainer di Cilincing, Jakarta Utara.

Tak hanya itu, Nurhadi dan Rezky didakwa menerima gratifikasi. Keduanya diduga menerima gratifikasi sebesar Rp37.287.000.000 dari sejumlah pihak yang berperkara di lingkungan Pengadilan tingkat pertama, banding, kasasi, hingga peninjauan kembali.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp