International Media

Senin, 23 Mei 2022

Senin, 23 Mei 2022

Invasi Rusia Hancurkan Ratusan Rumah Sakit dan Pusat Kesehatan

invasi-rusia-hancurkan- ratusan ruma sakit

ZAPORIZHZHIA- Invasi Rusia ke Ukraina telah menghancurkan ratusan rumah sakit dan fasilitas medis lainnya. Kondisi itu menyebabkan dokter tidak memiliki pasokan obat untuk mengatasi kanker atau kemampuan untuk melakukan operasi.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan, banyak tempat bahkan kekurangan antibiotik dasar di timur dan selatan Ukraina yang menjadi medan perang utama. “Jika Anda hanya mempertimbangkan infrastruktur medis, pada hari ini pasukan Rusia telah menghancurkan atau merusak hampir 400 institusi kesehatan: rumah sakit, bangsal bersalin, klinik rawat jalan,” katanya dalam pidato video kepada kelompok amal medis pada Kamis (5/5) waktu setempat.
Sedangkan di daerah-daerah yang diduduki oleh pasukan Rusia, Zelenskiyy mengatakan, situasinya sangat buruk.
“Ini sama dengan kekurangan obat untuk pasien kanker. Ini berarti kesulitan ekstrem atau kekurangan insulin untuk diabetes. Tidak mungkin untuk melakukan operasi. Itu bahkan berarti, cukup sederhana, kekurangan antibiotik,” ujarnya.
Dalam salah satu tindakan perang yang paling banyak dikecam, sebuah rumah sakit bersalin dihancurkan pada 9 Maret di Kota Pelabuhan Mariupol yang terkepung. Rusia menuduh serangan itu direkayasa dan mengatakan situs itu telah digunakan oleh kelompok bersenjata Ukraina.
Istana Kremlin mengatakan, hanya menargetkan situs militer atau strategis dan tidak menargetkan warga sipil. Laporan media Ukraina menyatakan, korban sipil dari penembakan dan pertempuran Rusia, serta menuduh Rusia melakukan kejahatan perang, meski klaim itu dibantah oleh Rusia.
Titik pusat pertempuran saat ini berada di kota pelabuhan Mariupol. Diperkirakan 200 warga sipil, bersama dengan pejuang perlawanan Ukraina, terjebak di dalam pabrik baja Azovstal dengan sedikit makanan atau air.
Pabrik baja diguncang oleh ledakan besar pada Kamis (5/5), ketika pasukan Rusia berjuang untuk menguasai benteng terakhir Ukraina. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bergegas untuk mengevakuasi warga sipil. Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, Rusia siap untuk memberikan jalan yang aman bagi warga sipil tetapi mengulangi seruan agar pasukan Ukraina di dalam pabrik untuk melucuti senjata.
Seorang pejuang Ukraina yang bersembunyi di Azovstal menuduh pasukan Rusia melanggar pertahanan pabrik untuk hari ketiga. Padahal Moskow berjanji sebelumnya untuk menghentikan aktivitas militer untuk mengizinkan evakuasi sipil.
“Pertempuran sengit dan berdarah sedang berlangsung. Lagi-lagi, Rusia tidak menepati janji gencatan senjata,”kata Kapten Sviatoslav Palamar dari Resimen Azov Ukraina.
Istana Kremlin membantah tuduhan Ukraina bahwa pasukan Rusia menyerbu pabrik itu dalam beberapa hari terakhir. Namun rekaman udara yang dirilis oleh Resimen Azov Ukraina pada Kamis (5/5), menyebutkan jika pabrik menunjukkan tiga ledakan menghantam bagian berbeda dari kompleks yang luas itu, yang diselimuti asap tebal dan gelap. Reuters memverifikasi lokasi rekaman dengan mencocokkan bangunan dengan citra satelit, tetapi tidak dapat menentukan kapan video itu direkam.
Militer Rusia berjanji untuk menghentikan aktivitasnya selama dua hari ke depan untuk mengizinkan warga sipil pergi. Istana Kremlin mengatakan koridor kemanusiaan dari pabrik sudah ada. Wakil Perdana Menteri Ukraina Iryna Vereshchuk mengatakan bahwa orang-orang akan dievakuasi dari Mariupol pukul 12.00 waktu setempat pada Jumat (6/5).
Sementara itu, setelah beberapa warga sipil dievakuasi dari pabrik baja yang dikepung oleh pasukan Rusia di pelabuhan Mariupol, perhatian kini beralih ke nasib ratusan tentara Ukraina yang masih berada di dalam pabrik baja. Mereka diyakini tidak dapat meloloskan diri dari kepungan pasukan Rusia.
Pilihan mereka tampaknya adalah berjuang sampai mati atau menyerah dengan harapan dapat diselamatkan di bawah ketentuan hukum humaniter internasional. Tetapi para ahli mengatakan pasukan Ukraina tidak mungkin diberikan jalan keluar yang mudah oleh Rusia.
“Mereka memiliki hak untuk berjuang sampai mati, tetapi jika mereka menyerah kepada Rusia, mereka dapat ditahan,” kata Marco Sassoli, seorang profesor hukum internasional di Universitas Jenewa.
“Itu hanya pilihan mereka,” ujarnya seperti dikutip dari The Associated Press, Jumat (6/5)
Sassoli mengatakan, tidak boleh dikesampingkan bahwa Rusia dapat memperlakukan mereka sesuai dengan hukum internasional.
“Tidak akurat untuk mengatakan orang-orang malang di Azovstal ini tidak boleh menyerah kepada Rusia karena Rusia akan mengeksekusi atau menyiksa mereka,” katanya.
Laurie Blank, seorang profesor di Emory Law School di Atlanta yang mengkhususkan diri dalam hukum humaniter internasional dan hukum konflik bersenjata, mengatakan pejuang yang terluka dianggap “hors de combat” secara harfiah “keluar dari pertarungan” dan dapat ditahan sebagai tawanan perang.
“Rusia dapat membiarkan pasukan Ukraina yang terluka kembali ke wilayah Ukraina tetapi tidak diharuskan,” katanya.
Pabrik baja Azovstal yang berada di tepi laut yang luas adalah tujuan perang utama bagi pasukan Rusia. Pabrik baja ini diyakini sebagai pertahanan terakhir di pesisir tenggara Ukraina.
Istri dari setidaknya dua tentara Ukraina yang berada di dalam Azovstal memohon komunitas internasional untuk mengevakuasi tentara di sana. Ia mengatakan mereka berhak mendapatkan hak yang sama sebagai warga sipil.
Suami Kateryna Prokopenko, Denys Prokopenko, memimpin Resimen Azov yang telah mempertahankan pabrik baja selama pengepungan Mariupol oleh Rusia. Dia menyuarakan keprihatinan pada hari Kamis (5/5).
“Mereka sedang menunggu operasi evakuasi dari Eropa, atau mereka semua akan mati,” ujarnya.
Pihak berwenang Ukraina juga menuntut agar Rusia menawarkan tentara Azovstal jalan keluar yang aman – dengan senjata mereka. Tetapi para ahli mengatakan hampir tidak pernah terjadi sebelumnya, jika para tentara dibiarkan keluar dengan bebas.
“Tidak mungkin Rusia mengizinkan pasukan Ukraina meninggalkan pabrik dengan senjata mereka dan tidak ada undang-undang yang mengharuskan itu,” kata Blank.
Sebaliknya, militer Rusia telah meminta pasukan di dalam Azovstal untuk meletakkan senjata mereka dan keluar dengan bendera putih. Dikatakan mereka yang menyerah tidak akan dibunuh, sesuai dengan hukum internasional.***

Frans Gultom

Komentar