Indonesia Punya 3 Jenis Vaksin

Ilustrasi

JAKARTA – Pemerintah terus berupaya mengentaskan wabah covid-19 di Tanah Air. Salah satu caranya dengan melakukan penyuntikan vaksin covid-19 kepada masyarakat dalam upaya menciptakan herd immunity (kekebalan kelompok).

Saat ini sudah terdapat tiga jenis vaksin covid-19 yang hadir di Indonesia. Masing-masing adalah Sinovac, AstraZeneca, serta Sinopharm yang khusus digunakan untuk vaksinasi mandiri.

Meski demikian, saat ini masih banyak masyarakat yang belum paham dengan perbedaan-perbedaan vaksin covid-19 ini.

Merangkum dari unggahan akun Instagram Kawal Covid-19 @kawalcovid19.id, Senin (3/5), berikut perbedaan dari ketiga jenis vaksin covid-19 tersebut.

1. Vaksin Sinovac (CoronaVac)

Vaksin ini menjadi yang pertama dimiliki Indonesia sejak kedatangannya pada awal Desember 2020. Vaksin Sinovac berasal dari virus yang dinonaktifkan (Inactivated virus vaccine). Virus SARS-Cov2 dinonaktifkan secara kimiawi dengan senyawa yang disebut beta-propiolakton sehingga virus tidak dapat bereplikasi. Meski demikian, semua proteinnya masih tetap utuh.

Tingkat efikasi: Tahap III 50 persen (strain asli), sementara efikasi untuk varian B1351 asal Afrika Selatan masih belum diketahui.

Dosis: Dua dosis berjarak 14 hari.

Penyimpanan vaksin: Di suhu 2 hingga 8 derajat Celsius.

2. Vaksin AstraZeneca

Berbeda dengan Vaksin Sinovac, vaksin AstraZeneca berbasis viral vektor. Viral vektor artinya dsDNA yang mengodekan protein spike terlindung di dalam sebauh virus yang aman. Sel yang terinfeksi mengekspresikan protein spike yang menyebabkan respons imunitas.

Tingkat efikasi: Tahap III 82 persen (strain asli), efikasi untuk varian B1351 asal Afrika Selatan sebesar 10 persen.

Dosis: Dua dosis berjarak 12 minggu (hasil maksimal didapatkan dengan pemberian dosis kedua pada minggu ke-12 setelah dosis pertama).

Penyimpanan vaksin: Di suhu 2 hingga 8 derajat Celsius selama 6 bulan.

3. Vaksin Sinoparm

Pada dasarnya prinsip kerja vaksin Sinopharm sama persis dengan Vaksin Sinovac. Vaksin ini berasal dari virus yang dinonaktifkan (Inactivated virus vaccine). Virus SARS-Cov2 dinonaktifkan secara kimiawi dengan senyawa yang disebut beta-propiolakton sehingga virus tidak dapat bereplikasi.

Tingkat efikasi: Tahap III 79 persen (strain asli), sementara efikasi untuk varian B1351 asal Afrika Selatan masih belum diketahui.

Dosis: Dua dosis berjarak 21 hari.

Penyimpanan vaksin: Di suhu 2 hingga 8 derajat Celsius.

Sementara itu, Pemerintah menyatakan stok vaksin covid-19 akan bertambah sebanyak 16 hingga 18 juta dosis dari hasil produksi Bio Farma sepanjang April 2021.***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp