Tuesday, 05 March 2024

Search

Tuesday, 05 March 2024

Search

Indonesia Harus Punya SDM Unggul di Bidang Transportasi Seperti Tiongkok

Para narasumber seminar.

JAKARTA—–Untuk bisa berkontribusi dalam pembangunan transportasi lebih cepat, seperti proyek KCIC Whoosh, Indonesia perlu memiliki ahli atau lulusan sarjana khusus di bidang transportasi.

         Hal ini diutarakan oleh Head of Asian Pasific Committee Adi Harsono dalam Seminar Indonesia China Youth Forum The Potential of Indonesia-China Cooperation From Jakarta-Bandung High-Speed Railway, di UAI (Universitas Al Azhar Indonesia), Jakarta, Kamis (25/1).

Murni Djamal.

Seminar tersebut dihadiri oleh beberapa tokoh penting dari PBM UAI dan luar UAI, yaitu  Wakil Ketua Dewan Pengurus PBM UAI, Drs. Murni Djamal, MA, Expert KCIC, Hanggoro Budi Wiryawan, CSIS scholar Veronika Saraswati, Perwakilan sponsor China Mobile, Mr. Zhang Dong dan Perwakilan sponsor PT Huadian, Mr. Gu Qiucheng.

         Menurut Adi Harsono, belum adanya sumber daya manusia berpendidikan khusus membidangi transportasi di Indonesia, karena sejauh ini kampus yang ada hanya sebatas memiliki pendidikan teknik secara umum.

         “Permasalahan kita, kita siap nggak? Kita mengerti nggak? Kita perlu adanya S1 di bidang itu (transportasi). Kita perlu ciptakan engineer di bidang teknologi, transportasi jalan raya, jembatan. Institusi pendidikan di Indonesia belum serius buka fakultas,” ujar Adi.

         Dia mencontohkan, Tiongkok memiliki sejumlah kampus khusus transportasi. Misalnya saja Beijing Jiaotong University.

         “Lulusannya bisa bikin jembatan, pasang rel, menggali terowongan. Di Indonesia kampus khusus itu belum ada. Butuh yang mengerti teknik pengeboran, jembatan, rel. Itu harus S1. Vokasi gak cukup,” ucapnya.

Feri Ansori.

Jika SDM siap dan berkualitas, imbuhnya, maka percepatan pembangunan transportasi bisa dikejar. Dengan begitu, Indonesia bisa mandiri dan tidak tergantung pada orang lain di luar negara sendiri.

         “Cepat-cepat anak muda belajar, didukung pemerintah. Bahkan di Tiongkok, berikutnya sudah ada rumah di luar angkasa,” katanya.

         Pada kesempatan yang sama, Ketua Prodi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok sekaligus Direktur Pusat Bahasa Mandarin dari Pihak Indonesia, Feri Ansori mengatakan pihak kampus siap memfasilitasi mahasiswa untuk mempelajari budaya dan bahasa Tiongkok lebih dalam dan terbuka.

         Dia mengatakan, Universitas Al Azhar Indonesia memiliki program PMM (Pertukaran Mahasiswa Merdeka) dalam MBKM Mandiri melalui program Kampus Merdeka.

         “Memotivasi mereka, lebih giat lagi mengenal Tiongkok baik budaya, sejarah. Kami memang di Universitas Al Azhar ada program kerjasama dengan Fujian Normal University China ada program double degree. Mahasiswa tingkat 2-3 itu bisa menempuh pendidikan ke sana dan juga ada program pertukaran 1 tahun, sudah cukup lama,” terang Feri.

         Dia mengakui, Indonesia memang masih kurang dalam mempersiapkan SDM. Berbeda dengan Tiongkok, ada kampus-kampus khusus mempelajari satu bidang, bukan masuk dalam prodi.

         “Lihat kampus-kampus di sana sangat besar, fasilitas pendidikan luar biasa, memiliki soft skill yang bagus. Kami berharap ke depan bisa tingkatkan kerjasama dengan kampus di Tiongkok. Di sana ada kampus khusus perminyakan, transportasi, bukan dalam jurusan atau program studi,” ucapnya.

         Sedikitnya saat ini ada 16 mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia yang mengikuti program double degree di Tiongkok. Mereka belajar budaya hingga bahasa di sana.

         “Memang untuk penyiapan SDM, kita masih kurang, Contohnya di Tiongkok itu ada cukup banyak kampus Foreign Studies University, gak hanya pelajari bahasa asing, tapi juga budaya. Itu kampus bukan prodi. Sampai bahasa-bahasa kecil, yang kita belum pernah dengar, mereka pelajari. Itu yang memang harus kita tingkatkan,” ujar Feri.

Sekedar informasi tambahan, pada seminar ini, dibahas pula seputar proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung alias Whoosh, mulai dari latar belakang pembangunan, proses pengerjaan, skema pendanaan, hingga dampaknya untuk Indonesia dan Tiongkok. jhk/kris

Sukris Priatmo

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media