Indonesia Butuh Investasi Rp5.931,8 T di 2022

Suharso Monoarfa. (Foto: ist)

JAKARTA –  Indonesia membutuhkan dana investasi hingga Rp5.931,8 triliun pada tahun 2022. Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyebutkan, investasi itu dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Pada tahun 2022, investasi jadi aktor utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di 2022 Indonesia butuh investasi sebesar Rp5.891,4 triliun- Rp5.931,8 triliun,”  ujar Suharso dalam Musrenbangnas 2021, Selasa (4/5).

Suharso menjabarkan pemerintah mengandalkan investasi dari kalangan swasta dan BUMN. Pemerintah juga akan melakukan investasi dalam jumlah yang lebih kecil.

Disebutkan juga, investasi yang akan dilakukan pemerintah hanya sekitar 7,5-8,4% atau sekitar Rp439,4 triliun-Rp497 triliun. Sementara itu investasi dari BUMN mencapai 8,5-9,7%, atau sejumlah Rp503,1 triliun-Rp577 triliun.

Sementara itu, jumlah kebutuhan investasi dari pihak swasta yang dipaparkan Suharso senilai Rp4.948,9 triliun-Rp4.857,7 triliun atau sekitar 81,9-84% dari total kebutuhan investasi di tahun 2022. “Ini harus didukung dari investasi non pemerintah, khususnya dari swasta,” ujar Suharso.

 Suharso sempat menyebutkan pemerintah merencanakan di tahun 2022 Indonesia akan keluar dari jerat pandemi Covid -19. Dalam rancangan kerja pemerintah (RKP) 2022, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai 5,2%-5,8%. “Sesuai RKP 2022, ditentukan sasaran pembangunan dari beberapa indikator utama, untuk pertumbuhan ekonomi mencapai 5,2% – 5,8%,” papar Suharso.

Ia juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini mencapai 4,0%-5,0%. Dia mengatakan titik tengahnya ada di 4,5%. Prediksi  ini berbeda dari target sebelumnya yang diungkapkan pemerintah yang menyebutkan ekonomi Indonesia tahun ini akan berada di 4,5%-5,3%.

Outlook ekonomi Indonesia di tahun 2021 diperkirakan antara 4%-5% dengan titik tengah 4,5%, dengan berbagai downside dan upside risk,” ungkap Suharso.  Dia menyampaikan di kuartal I-2021 ekonomi masih akan berada di zona negatif di kisaran 0,6%-0,9%. Menurutnya, peningkatan belanja pemerintah dan kinerja ekspor akan menahan pertumbuhan ekonomi agar tidak turun. “Peningkatan belanja pemerintah dan ekspor akan jadi palang agar tidak terkontraksi lebih dalam,” ujar Suharso.***

Vitus Dotohendro Pangul

Vitus Dotohendro Pangul

Tulis Komentar

WhatsApp