Ilmuwan Kembangkan Vaksin Covid-19 Tanpa Suntikan

JAKARTA – Para ilmuwan tengah mengembangkan model vaksin Covid-19 terbaru tanpa suntikan. Bila penelitian berjalan lancar, vaksin ini akan didistribusikan awal tahun 2022.

Melansir Foxnews, Kamis (18/3), hasil penelitian saat ini menunjukkan, enam hingga delapan imunisasi telah siap untuk dilakukan peninjauan lebih lanjut pada akhir tahun mendatang.

Kendati demikian, beberapa di antaranya masih memerlukan jarum suntik dan harus disimpan pada suhu ruang. Hal tersebut dijelaskan secara gamblang oleh Soumya Swaminathan, Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Vaksin eksperimental yang sedang dalam tahap penelitian ini diproduksi menggunakan teknologi dan sistem pengeriman alternatif, termasuk proses vaksinasinya kelak melalui metode oral, hidung, dan patch khusus yang diletakkan pada kulit. Metode ini lebih cocok untuk beberapa kelompok seperti wanita hamil,” kata Swaminathan.

Swaminathan menambahkan, vaksin Covid-19 terbaru ini merupakan satu dari 80 kandidat vaksin yang sedang mereka teliti. Beberapa di antaranya masih berada dalam tahap awal penelitian dan memiliki kemungkinan gagal.

Sementara itu, Bloomberg melaporkan, hingga saat ini hanya terdapat 122 dari 195 negara di dunia yang melakukan vaksinasi kepada warganya. Hal tersebut tidak terlepas dari ketersedian vaksin yang semakin berkurang.

“Kami sangat senang dengan vaksin yang sedang dikembangkan ini. Tapi kami harus terus meningkatkan jumlah produksi dan memastikan efektifitasnya. Saya pikir memasuki 2022 nanti, kita semua akan mendapatkan vaksin dengan kualitas yang lebih baik,” kata Swaminathan.

Beberapa produsen vaksin juga dilaporkan tengah melakukan uji sejumlah coba vaksin untuk mengatasi mutasi terbaru virus Covid-19 muncul dalam beberapa bulan terakhir.

WHO sendiri sedang meninjau apakah penyintas Covid-19 juga membutuhkan vaksin.

Para ilmuwan juga mengganti placebo dengan ‘gold standard’ vaksin untuk alasan etika dalam beberapa pengujian eksperimental. Pendekatan lain yang sedang ditinjau adalah membandingkan tiga atau empat kandidat obat dengan plasebo. Dalam arti lain, pasien hanya memiliki peluang 20 persen untuk menerima dosis palsu.

“Kami sekarang sedang berdiskusi dengan beberapa perusahaan yang sedang mengembangkan vaksin untuk melihat apakah kami dapat meluncurkan sesuatu seperti pada platform uji coba global,” kata Swaminathan. ***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp