Hipospadias yang Diidap Aprilia Manganang Bukan Transgender

JAKARTA(IM) – Aprilia Manganang dipastikan mengidap hipospadias . Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Andika Perkasa juga sudah menegaskan bahwa mantan atlet voli tersebut bukan seorang waria atau transgender. Aprilia terlahir sebagai laki-laki dengan kelainan yang disebut hipospadias.
“Sersan Manganang ini bukan transgender, bukan juga interseks. Tidak masuk dalam kategori itu semua. Karena memang kelainan yang dialami adalah hipospadias,” tegas Jenderal Andika.
“Anak ini termasuk dalam kasus hipospadias serius sehingga paramedis yang membantu kelahirannya, dan orangtua menilai secara fisik bahwa dia perempuan,” sambungnya.
Sementara itu, hipospadias dan waria merupakan kondisi yang berbeda. Dilansir dari Mayo Clinic, Kamis (11/3), hipospadias merupakan cacat lahir (kondisi bawaan) di mana pembukaan uretra berada di bagian bawah penis bukan di ujung. Uretra adalah saluran di mana urin mengalir dari kandung kemih dan keluar dari tubuh.
Hipospadias sering terjadi dan tidak menyebabkan kesulitan dalam merawat bayi. Pembedahan biasanya mengembalikan tampilan normal penis. Dengan pengobatan hipospadias yang berhasil, kebanyakan pria dapat buang air kecil dan memiliki reproduksi normal.
Hipospadias hadir saat lahir atau bawaan. Ketika penis berkembang pada janin laki-laki, hormon tertentu merangsang pembentukan uretra dan kulup. Hipospadias terjadi ketika ada kerusakan akibat kerja hormon-hormon ini, menyebabkan uretra berkembang secara tidak normal.
Dalam kebanyakan kasus, penyebab pasti hipospadias tidak diketahui. Terkadang, hipospadias bersifat genetik, tetapi lingkungan juga dapat berperan.
Sedangkan waria ataupun transgender adalah laki-laki yang lebih suka berperan sebagai perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Secara fisik, mereka adalah laki-laki dan memiliki alat kelamin layaknya laki-laki. Namun, mereka mengekspresikan identitas gendernya sebagai perempuan.
Pilihan menjadi waria atau transgender sama sekali tidak berhubungan dengan kondisi biologis atau seksual mereka. Pasalnya, hal ini lebih berhubungan dengan kebutuhan untuk mengekspresikan identitas gender mereka.***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp