Ganjil Genap Ditiadakan, Okupansi Hotel di Kota Bogor Meningkat

Sejumlah petugas sedang memeriksa ganjil genap dan surat rapit antigen, di Simpang Gadog, Bogor, sebagai syarat untuk bisa ke Puncak.

BOGOR (IM)- Tingkat kunjungan hotel dan restoran di Kota Bogor, Jawa Barat, kembali bergairah setelah sempat lesu dalam beberapa pekan terakhir karena kebijakan sistem ganjil genap yang diterapkan pemerintah daerah.

Persatuan Hotel dan Restoran Seluruh Indonesia (PHRI) Kota Bogor mencatat, terjadi peningkatan sebesar 70 persen pada akhir pekan kemarin. Ketua PHRI Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay mengatakan, meningkatnya jumlah kunjungan tamu hotel dan restoran selama akhir pekan kemarin, karena peniadaaan sistem ganjil genap oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor.

Hal itu sangat berpengaruh terhadap okupasi bisnis pariwisata di Kota Hujan. “Jumat (5/3) dan Sabtu (6/3) kemarin okupansi hotel 70 persen, sebelumnya saat ganjil genap hanya 40 persen. Untuk restoran ada peningkatan 30 sampai 35 persen,” kata Yuno, saat dikonfirmasi, Senin (8/3).

Yuno menuturkan, PHRI sangat menyambut baik peniadaan ganjil genap kendaraan bermotor selama dua pekan ke depan. Sejak Pemkot Bogor menerapkan sistem ganjil genap, sambung Yuno, banyak pengusaha hotel dan restoran merugi. Ia menyebut, tingkat okupansi hotel sempat turun drastis sebesar 50 persen. “Kerugiannya 50 persen itu ya bisa miliaran rupiah,” sebutnya.

Selama empat minggu pemberlakuan ganjil genap, banyak pengusaha hotel dan restoran cukup berat dalam menjalankan usahanya.
Sementara di sisi lain, pemerintah daerah menilai ganjil genap mampu menekan angka kasus Covid-19.

Untuk bertahan, banyak pengelola hotel dan restoran yang melakukan perubahan strategi pemasaran. “Dengan ditiadakannya ganjil genap ini diharapkan bisa menggairahkan kembali bisnis hotel dan restoran di Kota Bogor,” beber dia.

Sementara itu, Marketing Communication Hotel 101 Suryakencana, Resti mengatakan, pihaknya berharap bisnis pariwisata dapat tumbuh kembali di situasi saat ini. Resti mengungkapkan, ganjil genap memberikan dampak yang cukup besar terhadap penurunan jumlah kunjungan tamu yang datang.

“Sangat berpengaruh, turun 30 persen. Biasanya kita weekend di angka 90 persen, tapi pas ganjil genap cuman 60 sampai 70 persen,” imbuhnya.

“Tentunya dengan ditiadakannya ganjil genap sangat senang. Karena weekend satu-satunya harapan kami untuk meningkatkan revenue secara maksimal,” pungkas dia.

Wali Kota Bogo,r Bima Arya Sugiarto sebelumnya mengatakan, sistem ganjil genap dinilai mampu mengurangi mobilitas warga serta menekan angka kasus Covid-19 selama dua pekan sebelumnya. Meskipun begitu, berdasarkan hasil evaluasi dan analisa, Pemkot Bogor memutuskan meniadakan sistem ganjil genap akhir pekan untuk sementara.

“Menurut Bima, alasan peniadaan sistem ganjil genap akhir pekan adalah untuk relaksasi perekonomian di Kota Bogor. “Jadi ada sedikit relaksasi dua minggu ke depan untuk kita mendorong ekonomi, walaupun sebetulnya sektor ekonomi juga membaik,” ungkap Bima. Bima berharap, peniadaan ganjil genap tidak membuat masyarakat abai terhadap protokol kesehatan Covid-19. gio


Prayan Purba

Prayan Purba

Tulis Komentar

WhatsApp