International Media

Sabtu, 1 Oktober 2022

Sabtu, 1 Oktober 2022

Eks Bupati Buru Selatan Diduga Terima Suap dari Banyak Pengusaha

Ilustrasi

JAKARTA – Mantan Bupati Buru Selatan dua periode, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS) diduga menerima banyak aliran uang suap dari para kontraktor. Hal itu terungkap setelah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa pengusaha asal Buru Selatan, Liem Sin Tiong, sebagai saksi.

Penyidik mengonfirmasi soal proyek Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru Selatan yang dikerjakan oleh perusahaan Liem Sin Tiong. Tak hanya itu, Lim Sin Tiong juga dikonfirmasi oleh penyidik soal aliran uang dugaan suap dari beberapa kontraktor untuk Tagop Sudarsono Soulisa.

“Tim penyidik mengonfirmasi antara lain terkait dengan pelaksanaan proyek yang dikerjakan oleh saksi dan dugaan aliran uang untuk tersangka TSS dari beberapa rekanan kontraktor yang juga turut mengerjakan proyek di Kabupaten Buru Selatan,” kata Plt Juru Bicara KPK, Ali Fikri melalui pesan singkatnya, Jumat (15/4).

Diketahui sebelumnya, KPK telah menetapkan mantan Bupati Buru Selatan dua, Tagop Sudarsono Soulisa (TSS) sebagai tersangka. Dia ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap, gratifikasi, hingga Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

Tagop ditetapkan sebagai tersangka KPK bersama dua orang lainnya. Keduanya yakni, orang kepercayaan Tagop, Johny Rynhard Kasman (JRK) dan pihak swasta, Ivana Kwelju (IK). Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi terkait pengadaan barang dan jasa di Buru Selatan.

Tagop diduga telah menerima fee sedikitnya sekira Rp10 miliar dari beberapa rekanan yang mengerjakan proyek pengadaan barang dan jasa di Buru Selatan. Ia diduga menerima fee sebesar Rp10 miliar melalui Johny Rynhard. Uang sebesar Rp10 miliar itu, salah satunya berasal dari Ivana Kwelju.

Berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan tim KPK, uang sebesar Rp10 miliar itu diduga telah dialihkan oleh Tagop ke sejumlah aset. Tagop diduga mencuci uangnya sejumlah Rp10 miliar dengan membeli aset atas nama orang lain. Hal itu dilakukan Tagop agar aset hasil korupsinya tidak diketahui KPK.

Atas perbuatannya, Ivana Kwelju sebagai pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sedangkan Tagop dan Johny, disangkakan melanggar pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP dan Pasal 3 dan atau 4 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.***

Osmar Siahaan

Komentar

Baca juga