Saturday, 15 June 2024

Search

Saturday, 15 June 2024

Search

DPP Berani Gelar Dialog Lintas Iman Hari Raya Waisak 2568 BE/2024 Bertajuk Merawat Dunia, Menjaga Kehidupan

Daniel Johan menyerahkan piagam ke Anies Baswedan.

JAKARTA—- DPP Berani (Badan Persaudaraan Antariman) menggelar Dialog Lintas Iman Hari Raya Waisak 2568 BE/2024 dengan tema Merawat Dunia, Menjaga Kehidupan, Sabtu (8/6).

YM Bhikkhu Dhammasubho Mahathera didampingi Daniel Johan dan Sekjen Berani Ardy Susanto memberikan buku ke Anies Baswedan.

         Dialog Lintas Iman yang dilangsungkan di Wisma STI (Sangha Theravada Indonesia), Jalan Margasatwa, Jakarta Selatan ini menghadirkan Gubernur DKI Jakarta 2018 – 2023 Anies Baswedan sebagai keynote speech dan narasumber Kepala Wisma STI YM Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, Tokoh Katolik Romo Franz Magnis Suseno, Ketum MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Xs. Budi S Tanuwibowo, Ketum PGI (Persekutuan Gereja Indonesia) Pdt. Gomar Gultom, Kabid Keagamaan dan Spritualitas PHDI (Parisada Hindu Dharma Indonesia) Kanjeng Astono dan Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar yang diwakili oleh Wakil Kabid Pendidikan dan Pelatihan H Mulawarman Hannase.

KI-KA: YM Bhikkhu Dhammasubho Mahathera, Kanjeng Astono, Romo Franz Magnis Suseno, Anies Baswedan, Budi S Tanuwibowo, Pdt. Gomar Gultom, H Mulawarman Hannase dan Lorens Manuputty.

         Dalam keynote speechnya, Anies Baswedan mengajak semua pihak menjaga persatuan Indonesia. Menurutnya, kekuatan bangsa Indonesia terletak pada keberagaman.

Anies menegaskan, kekuatan bangsa ini bukan terletak pada keberagamannya, melainkan bagaimana bersepakat untuk bersatu membentuk senyawa (entitas) baru bernama Indonesia.

YM Bhikkhu Dhammasubho Mahathera memperlihatkan foto – foto koleksi Wisma STI.
Ardy Susanto menyerahkan piagam ke Kanjeng Astono.

“Kita semua menyadari bahwa negeri ini amat Bhinneka, dan bila kami merefleksikan kata pada lambang negara kita,  maka kata kuncinya itu ada pada kata tunggal yang bermakna satu. Karena banyak bangsa lain yang lebih bhinneka (beragam), tetapi yang membedakan bangsa kita adalah persatuannya. Bahkan Indonesia ini sudah seperti persenyawaan yakni entitas baru yang berbeda dengan unsur pembentuknya namun unsur pembentuknya tetap ada di dalamnya,” jelas Anies.

Jimmy menyerahkan piagam ke Romo Franz Magnis Suseno.

Menurut Anies, keberagaman itu merupakan karunia Tuhan tetapi bersatu adalah ikhtiar bersama karena itu adalah pilihan masing-masing rakyat Indonesia dan Jakarta adalah saksi persenyawaan itu melalui Sumpah Pemuda.

Lorens Manuputty menyerahkan piagam ke Pdt. Gomar Gultom.
Budi S Tanuwibowo menerima piagam dari panitia.

“Persatuan itu sesuatu yang diperjuangkan dan perlu kematangan untuk menyepakati pembentuk persatuan, kami melihat kita perlu jaga itu, menurut hemat kami kita perlu berikan kesetaraan agar rasa keadilan hadir dan muncul persatuan sehingga terjadi perdamaian,” ujarnya.

         Ketua DPP PKB Daniel Johan mengatakan kegiatan ini dalam rangka memperingati hari Raya Waisak dalam bentuk dialog peradaban, menjaga kehidupan dan merawat dunia.

Jimmy menyerahkan piagam ke H Mulawarman Hannase.

         Daniel menjelaskan, alasan menghadirkan Anies Baswedan karena Anies memiliki rekam jejak selama memimpin Jakarta dan berhasil mewujudkan berbagai keragaman dengan suasana yang teduh.

“Pak Anies secara konkrit, bukan karena sudah berencana, tetapi sudah mewujudkan langkah-langkah pada saat menjadi Gubernur Jakarta. Sehingga dari berbagai keragaman kita bersyukur suasana teduh, suasana damai, toleransi dan komunikasi kehidupan berbagai agama berlangsung dengan baik,” jelas Daniel.

Para narasumber dan panitia berfoto bersama peserta dialog.

Dalam kata sambutannya, Ketua Umum DPP Berani Lorens Manuputty mengajak segenap masyarakat Indonesia untuk merawat semangat toleransi dan semangat kesetaraan yang diwarisi oleh para pendiri bangsa.

         “Kita adalah generasi penikmat (dari perjuangan para pendiri bangsa dalam mendirikan Indonesia). Tapi persoalannya bukan hanya menikmati, kita perlu untuk merawat semangat toleransi dan semangat kesetaraan itu,” tegasnya.

         Lalu, Lorens menyoroti dua krisis yang menurutnya tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia dan perlu ditaklukkan secara tepat. Krisis pertama, adalah terkait dengan krisis kepemimpinan.

         Lorens menilai saat ini terjadi gejolak terkait beragam masalah di sejumlah wilayah disebabkan oleh ketiadaan ketegasan dalam diri para pemimpin di Tanah Air.

         Kedua, adalah krisis terkait dengan ideologi. Menurutnya, generasi bangsa Indonesia masa kini lebih mudah terpengaruh oleh budaya dari bangsa lain karena kehilangan nilai-nilai Pancasila di dalam dirinya. ***

Sukris Priatmo

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media