International Media

Selasa, 29 November 2022

Selasa, 29 November 2022

Dinkes DKI: Kasus Meninggal Gagal Ginjal Akut Mayoritas Terlambat Didiagnosis

Ilustrasi penyebab gagal ginjal akut.

JAKARTA- Dinas Kesehatan DKI Jakarta membeberkan sejumlah penyebab kematian kasus gagal ginjal akut misterius. Merujuk data kasus di DKI Jakarta, kebanyakan pasien gagal ginjal akut misterius meninggal lantaran terlambat didiagnosis.
“Kami sudah melihat data kasus DKI Jakarta, keparahan atau meninggal dari kasus gagal ginjal akut ini, itu banyak karena terlambat didiagnosis dan dibawa ke RS. Itu pertama,” kata Ngabila dalam webninar yang diakses melalui YouTube Dinkes DKI Jakarta, Minggu (23/10).
Ngabila menuturkan pasien yang menunjukkan gejala berat namun terlambat dibawa ke rumah sakit turut meningkatkan risiko kematian. Sebab, pasien yang memiliki gejala berat mestinya mendapatkan penanganan lebih lanjut, seperti cuci darah.
“Terlambat dibawa ke RS lebih dari 5 hari meningkatkan kematian. Kasus berat yang sudah terlambat meningkatkan kematian,” jelasnya.
Faktor lainnya adalah riwayat konsumsi obat sirup hingga pasien drop turut meningkatkan fatalitas. Karena itu, dia meminta agar para orang tua gencar melakukan deteksi dini.
Salah satu caranya ialah, memantau kondisi anak 10 hari terakhir setelah meminum obat sirup. Di samping itu, produksi urine berkurang dan berwarna cokelat, perlu diwaspadai.
“Adanya riwayat gunakan parasetamol sirup atau drop dapat meningkatkan kematian. Ini yang harus dijaga,” ujarnya.
Ngabila menjelaskan, rentan konsumsi obat sirup hingga pasien menampakkan gejala ringan berkisar antara 5-9 hari. Lalu, rentan kemunculan gejala hingga gejala semakin berat sehingga membutuhkan penanganan RS juga berkisar 5-9 hari.
Adapun, gejala berat yang dimaksud seperti tidak kencing selama 1-2 hari terakhir, sesak nafas hingga penurunan kesadaran.
“Dari gejala sampai rawat inap sekitar 5-9 hari. Artinya ketika ada anak kita meminum sirup perlu kita lakukan pemantauan sampai 10 hari terakhir minum sirup. Itu bentuk antisipasi kita. Apa aja yang perlu kita pantau? Gejala paling sering, apakah ada demam, apakah ada mencret, atau ada batuk pilek. Kita jangan sampai gejalanya sudah keburu berat,” terangnya.
“Gejala berat itu ketika dia nggak kencing sama sekali, katakanlah 2 hari nggak kencing atau penurunan kesadaran dan sesak nafas. Itu artinya racunnya sangat banyak dan membutuhkan fasilitas lebih advance seperti cuci darah,” tambahnya.
Sebagaimana diketahui, total ada 85 pasien dengan kondisi gangguan ginjal akut misterius di DKI Jakarta. Adapun 47,55 persen dari kasus yang dilaporkan meninggal dunia.
Laporan kasus gagal ginjal akut DKI mulai tercatat meningkat signifikan sejak Agustus yakni 12 kasus, September 25 kasus, Oktober sejauh ini semakin meningkat yakni 33 pasien. Total kasus lebih banyak dilaporkan pada anak laki-laki yakni 57 pasien, sisanya berjenis kelamin perempuan.
Jika dirinci berdasarkan usia, pasien terbanyak merupakan balita di bawah lima tahun. Sementara di atas 15 tahun dilaporkan memiliki persentase lebih kecil. ***

Prayan Purba

Komentar