International Media

Jumat, 30 September 2022

Jumat, 30 September 2022

Dilantik Menkes Jadi Anggota KTKI, Suryawan Siap Majukan Pelayanan Kesehatan Tradisional Indonesia

Suryawan (kanan) berfoto bersama Ketum YHMCHI (Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia) H.A. Nurawi.

JAKARTA (IM)–Bersama dengan 91 orang lainnya dari berbagai daerah di Indonesia, Suryawan, FCSE., B.Med., M.Med Rabu (7/9) lalu dilantik oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI) Budi G. Sadikin sebagai KTKI (Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia).

Dia merupakan salah satu anggota KTKI dari Jawa Timur yang dilantik sebagai salah satu anggotal Konsil Tenaga Kesehatan Tradisional dan siap mengabdi untuk kemajuan kesehatan di tanah air.

         “Saya bersama 91 anggota KTKI dilantik Menkes pada 7 September 2022. Saya siap melaksanakan amanah ini untuk kemajuan kesehatan di Indonesia, khususnya kesehatan tradisional” kata Suryawan.

         Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Pelaksanaan Fungsi, Tugas dan Wewenang Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia, pada BAB II, Pasal 2 disebutkan KTKI mempunyai fungsi sebagai Koordinator Konsil masing-masing tenaga kesehatan.

Pada BAB III, Pasal 10 disebutkan, Konsil masing-masing tenaga kerja kesehatan terdiri atas, Konsil Psikologi Klinis, keperawatan, kebidanan, kefarmasian, kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, gizi, keterampilan fisik, keteknisian medis, teknis biomedik, dan kesehatan tradisonal.

         “Berdasarkan UU No 36 Tahun 2014 Tentang Tenaga Kesehatan, membagi Tenaga Kesehatan menjadi 11 jenis. Jadi yang dilantik oleh Menkes sebanyak 91 orang untuk menjadi anggota di 11 konsil tenaga kesehatan Indonesia. Saya sendiri berada di Konsil Kesehatan Tradisional“ kata Suryawan yang juga Wakil Ketua Konsil Tenaga Kesehatan Tradisonal, Rabu (14/9) lalu.

         Dengan dilantiknya 91 orang Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI) ini, khususnya Konsil Tenaga Kesehatan Tradisional diharapkan ada kebijakan serta dukungan kepada tenaga kesehatan tradisional dan pendidikan kesehatan tradisional di Indonesia. Kesehatan tradisional itu diantaranya memiliki modalitas akupunktur, herbal, pijat, bekam/kop, terapi energi dan lainnya.

“Saya sendiri berharap dengan adanya Konsil Tenaga Kesehatan Tradisional ini, maka kualitas tenaga kerja kesehatan tradisional di Indonesia dapat meningkat. Sehingga dapat memberikan pelayanan kesehatan yang efektif, murah efisien,” kata Suryawan yang juga Kaprodi D4 Akupunktur dan Pengobatan Herbal UKDC Surabaya dan Ketua Perkumpulan Naturopatis Indonesia (PKNI) DPD Jawa Timur ini.

Dia menambahkan selama ini di Jatim pengobatan tradisional cukup maju, karena ada pendidikannya. Seperti di Unair dengan prodi D3 dan 4, Universitas Katolik Dharma Cendika Prodi Akupuntur dan Pengobatan Herbal. Juga Institut ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata Kediri prodi D4 Pengobatan Trasional Tiongkok.

Dengan adanya pendidikan ini, membuat SDM pengobatan tradisional di Jatim cukup maju. Apalagi di Puskesmas di Surabaya sudah ada tenaga pengobatan tradisional.

         Demikian pula halnya dengan minat masyarakat Jatim cukup bagus untuk kesehatan tradisional ini. “Selama pandemi covid-19, banyak masyarakat kembali ke alam dengan minum obat herbal. Biaya terjangkau. Hasilnya cukup baik,” imbuhnya.

         Saat ditanya langkah apa saja yang akan dilakukannya setelah dilantik menjadi Konsil.

Suryawan menjawab langkah awal berkenalan dan mendalami masalah-masalah yang ada di dalam pelayanan kesehatan tradisional baik di institusi pendidikan, organisasi profesi dan fasilitas kesehatan, sehingga bisa dirumuskan kebijakan yang sesuai. idn/din

Sukris Priatmo

Komentar

Baca juga