Dialog Islam – Khonghucu Warnai Peringatan HUT ke-98 Matakin

Wakil Presiden KH. Ma'ruf Amin.

JAKARTA (IM)—Memperingati HUT ke-98, Matakin (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) menggelar Dialog Islam-Khonghucu bertajuk “Tuhan dan Ketuhanan dalam Perspektif Islam dan Khonghucu”.

       Dialog dilangsungkan secara daring melalui Zoom Meeting dan YouTube Matakin Pusat, Sabtu (10/4) pukul 13:30 – 18:00 WIB.

       Menghadirkan Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin (Wakil Presiden RI) sebagai pembicara kunci dengan narasumber Islam antara lain Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H,. M.H., Dr. H. Marsudi Syuhud (Ketua PB NU), Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., dan Ulil Abshar Abdalla.

       Lalu narasumber dari Khonghucu antara lain Dr. Drs. Ws. Chandra Setiawan, M.M., Ph.D, Drs. Uung Sendana L.L, S.H., M. Ag., Js. Budiwan, dan Js. Kristan, SE., M. Ag.

       Dalam sambutannya, Ketua Umum Matakin Xs Budi S Tanuwibowo dalam sambutannya mengharapkan bahwa Matakin dalam usianya yang ke-98, tidak pernah putus menghasilkan kader-kader yang luar biasa.

Xs Budi S Tanuwibowo

“Sejarah telah membuktikan, di saat-saat periode yang sangat sulit pun antara tahun 1978-1998, Matakin selalu tidak kekurangan kader. Bahkan pernah Matakin memiliki ketua umum yang usianya di bawah 35 tahun,” ujarnya.

       “Hal kedua, kenapa ada dialog ini karena kami sadar kami hidup di sebuah negara yang mayoritas penduduknya adalah beragama Islam, dan selama ini antara Islam dan Khonghucu dikonotasikan berbeda jauh. Maka kita ingin saling mendekati,” tambahnya.

       Xs Budi S Tanuwibowo kembali menambahkan, dalam perjuangan mengembalikan hak-hak sipil umat Khonghucu, dari 28 tokoh nasional yang banyak membantu kiprah Matakin, hampir sebagian besar, sekitar 25 orang adalah tokoh-tokoh utama Islam.

       “Mulai dari Gus Dur, Nurcholis Madjid, Jimly Ashshiddiqie, almarhum Johan Effendi dan banyak lagi, sehingga kami ingin lebih mendalami,” kata Xs Budi S Tanuwibowo. 

       Dia mengakui, awalnya agak was-was hendak membuat acara dialog mengenai khasanah yang sifatnya vertikal, hubungan manusia dan Tuhan.

       “Tapi atas saran beberapa senior dari kalangan Islam sendiri yang semakin lama semakin yakin banyak kesamaan diantara kedua agama ini, maka dialog ini berbicara langsung pada topik yang paling mendasar yaitu soal Tuhan dan Ketuhanan,” ujarnya.

       Kalau dijumpai banyak perbedaan, kata Budi S Tanuwibowo, minimal kita bisa saling tahu, saling menghormati, dan saling memahami, karena itulah hakekat agama diturunkan berbeda-beda, seperti halnya manusia yang berbeda-beda untuk saling memahami, menghormati satu sama lain.

Peserta dan pembicara Dialog Islam-Khonghucu.

       “Kalau dijumpai banyak kesamaan, mudah-mudahan kesamaan itu bisa menjadi landasan dasar yang semakin memperkuat persaudaraan diantara anak bangsa,” kata Xs Budi S Tanuwibowo.

       “Jangan lagi bangsa Indonesia sengaja diretakkan oleh perbedaan-perbedaan terutama oleh perbedaan agama dan keyakinan. Mudah-mudahan manusia yang mengaku beriman dan beragama di Indonesia benar-benar menjadi manusia insani yang sekaligus cinta pada negaranya. Tidak perlu lagi dikotomikan lagi antara agama dengan Pancasila,” ujarnya.

       Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin yang hadir menjadi pembicara kunci mengucapkan selamat Hari Lahir Matakin ke-98.

Menurutnya, Matakin sebagai satu-satunya lembaga agama Khonghucu tertinggi di Indonesia sejak 1923, bertujuan untuk mengembangkan umat Khonghucu agar dapat mengamalkan ajaran agamanya dengan baik.

       “Sehingga mampu memperbarui diri dan berpartisipasi aktif dan berkontribusi positif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujar Wapres.

       Pada kesempatan itu, Wapres Ma’ruf mengapresiasi forum Dialog Islam dan Khonghucu yang diadakan dalam rangka HUT ke-98 Matakin.

Baginya, dialog ini sebagai bentuk nyata upaya merawat serta memperkuat kerukunan, saling pengertian, serta sinergi yang dibangun antar umat beragama, khususnya antara umat Islam dan umat Khonghucu, dalam rangka memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

“Agama memiliki peran sentral dalam kehidupan, sebagai sumber nilai yang memberikan pedoman bagi anak manusia agar merawat keimanan dan mencapai kualitas hidup yang mulia,” ujarnya.

       Wapres Ma’ruf memandang, agama juga berperan penting bagi manusia untuk senantiasa berperilaku baik, saling menghormati dan saling membantu, menebar rasa kasih, keadilan dan kedamaian, dalam rangka meraih kemuliaan hidup.

“Semoga Matakin semakin maju dan dapat terus memberi manfaat serta kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara,” pungkasnya.

Sebelum dialog berlangsung, sejumlah tokoh lintas agama menyampaikan ucapan selamat Hari Lahir Matakin ke-98. ***

Sukris Priatmo

Sukris Priatmo

Tulis Komentar

WhatsApp