Cuti Bersama Natal 2021 Ditiadakan dan Mengganti Dua Hari Libur Nasional

Menko PMK Muhadjir Effendy sebut tidak ada cuti bersama natal pada 24 Desember 2021.

JAKARTA (IM)  – Pemerintah memutuskan untuk mengganti dua hari libur nasional dan meniadakan cuti bersama Natal 2021.

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Efendy mengatakan, hal itu diputuskan mengingat kondisi Covid-19 yang belum membaik. “Pemerintah memutuskan untuk mengubah dua hari libur nasional dan meniadakan satu hari libur cuti bersama,” kata Muhadjir dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (18/6).

Libur nasional yang diganti adalah libur Tahun Baru Islam 1443 Hijriyah dari semula Selasa 10 Agustus 2021 digeser satu hari menjadi Rabu 11 Agustus 2021. Kemudian, libur Maulid Nabi Muhammad SAW yang semula Selasa 19 Oktober 2021 menjadi Rabu 20 Oktober 2021.

“Untuk libur cuti bersama Natal 2021 pada 24 Desember, ditiadakan,” kata Muhadjir.

Ia mengatakan, keputusan tersebut juga berdasarkan arahan Presiden Jokowi yang meminta adanya peninjauan ulang terhadap hari libur nasional dan cuti bersama yang sudah tercantum dalam surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri.

SKB tiga menteri tersebut adalah Menteri Ketenagakerjaan, Menteri Agama, dan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19, Sonny Harry B Harmadi mengatakan, setiap libur panjang selalu terjadi lonjakan kasus Covid-19.

“Kita tahu juga bawa varian baru tuh sebetulnya sudah masuk bahkan sebelum libur panjang. Artinya lonjakan kasus itu terjadi karena lebih karena libur panjang yang ada,” ujarnya.

Bahkan, kata Sonny, pihaknya telah mengantisipasi lonjakan kasus melihat pada empat kali libur panjang di tahun 2020 lalu.

“Kami sudah sebetulnya sudah mengantisipasi dan melihat ke belakang ya pada empat kali libur panjang 2020, pernah disampaikan Presiden Jokowi 4 kali libur panjang selalu menaikkan atau menimbulkan lonjakan kasus serta diikuti oleh lonjakan angka kematian,” ucapnya.

Ternyata, pada libur Lebaran pun tercatat 1,8 juta orang melaksanakan mudik meski telah dilarang.

“Lalu diikuti juga oleh peningkatan angka kematian tenaga kesehatan dengan meniadakan atau melarang mudik. Tetapi faktanya masih cukup banyak ya sekitar 1,8 juta orang yang ternyata melakukan mudik. Mereka melakukan mudik sebelum pelarangan tanggal 6 sampai 17 Mei dan setelahnya,” kata Sonny.

Menurut Sonny, terjadi kenaikan mobilitas penduduk yang menjadi pemicu lonjakan kasus Covid-19. Pasalnya, kenaikan mobilitas penduduk akan selalu diiringi oleh penurunan kepatuhan protokol kesehatan.

“Padahal kami sudah memprediksi kalau terjadi kenaikan mobilitas penduduk itu akan selalu diikuti oleh penurunan kepatuhan protokol kesehatan, jadi bareng itu ya. Mobilitasnya naik, kepatuhan protokol kesehatannya turun. Dan keduanya itu menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya kasus ini,” ucapnya.

Padahal, Indonesia pernah berhasil menurunkan kasus aktif Covid-19 pada Februari lalu. Menurutnya, Indonesia pernah berhasil menurunkan kasus aktif dari 176.500 lebih pada 5 Februari 2021 menjadi 87.662 kasus aktif di 18 Mei lalu. “Jadi kita itu turun, karena apa? Karena kepatuhan protokol kesehatan yang naik, lalu kemudian mobilitas penduduknya turun. Nah itu jelas kali ketika kita dua-duanya itu berubah kepatuhanya turun, mobilitas naik, kasus aktifnya pun langsung naik seperti sekarang,” katanya.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp