CIMA Gelar Forum Online Bertajuk Memahami Budaya Muslim Indonesia

Menag Yaqut Cholil Qoumas (kiri bawah), Dubes Djauhari Oratmangun, Dahlan Iskan, Hermawan Kartajaya (kanan bawah, kiri pertama) dan Arief Harsono dalam forum online.

JAKARTA–China Indonesia Management Association (CIMA) Sabtu (13/3) lalu menyelenggarakan salah satu rangkaian dialog lintas budaya berupa forum online bertajuk Memahami Budaya Muslim Indonesia.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun, Sekjen China Council for the Promotion of International Trade (CCPIT) Jack Yao, Founder sekaligus Chairman Mark Plus, Inc juga Co-founder CIMA Hermawan Kartajaya dan Chairman China Indonesia Management Association (CIMA) Arief Harsono mengiuti acara tersebut sekaligus menyampaikan pidato.

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok tidak hanya diwujudkan dalam kerjasama politik dan ekonomi. Namun juga terwujud dalam kerjasama sosial budaya. Meski memiliki budaya yang sama sekali berbeda, Indonesia yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia bisa bekerjasama dengan Tiongkok.

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, meskipun Indonesia berpenduduk mayoritas Muslim, namun sebagian besar orang memiliki sikap yang moderat dan setuju dengan ideologi negara. Yakni sebesar 81,6% umat Islam Indonesia setuju dengan dasar negara Indonesia yaitu Pancasila. Dan ini merupakan basis  dasar yang menjamin integritas negara.

Ketua CIMA China Arief Harsono menyatakan kerja sama diplomatik Indonesia-Tiongkok telah berlangsung lebih dari 70 tahun.

Apalagi, beberapa bukti sejarah menunjukkan bahwa etnis Tionghoa Indonesia telah mengakar di Indonesia dan menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

“Indonesia dan Tiongkok meningkatkan hubungan persahabatan melalui dialog ekonomi dan perdagangan lintas budaya,” tambahnya.

Ada pun tujuan dibentuknya CIMA adalah untuk memperkuat hubungan antara Indonesia dan Tiongkok, untuk berkembang menjadi kemitraan yang membangun kesejahteraan di Asia.

Di masa wabah Covid-19 ini, kerjasama kedua negara di bidang ekonomi mengalami penguatan. Hal tersebut telah membuktikan hubungan diplomatik yang erat antara kedua negara.

Menurut informasi Tiongkok menjadi salah satu negara investor terbesar di Indonesia pada tahun 2020 dengan nilai investasi sebesar 4,8 miliar dolar AS. Volume perdagangan mencapai 78,9 miliar dolar AS.

Arif menyatakan disamping itu, Indonesia dan Tiongkok juga akan berkontribusi di bidang teknologi dan akan berinvestasi pada artificial intelligence (AI), blockchain, dan teknologi internet.

Sedangkan Sekjen Jack Yao mengatakan dialog budaya antara Indonesia dan Tiongkok dapat mempererat persahabatan kedua negara.

Dia memperkirakan Indonesia dan Tiongkok akan bekerja sama satu sama lainnya. Seiring dengan  implementasi ASEAN-China Digital Economy Cooperation Year 2020, kerja sama dengan Tiongkok diharapkan dapat semakin mendorong perkembangan e-commerce di Indonesia dan Asia Tenggara.

Dubes Djauhari Oratmangun menyatakan target Tiongkok dan Indonesia adalah berbagi masa depan bagi umat manusia. Hal ini terefleksikan dari kerja sama distribusi vaksin. Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok akan diperkuat untuk berkontribusi terhadap perubahan iklim, khususnya di bidang ekonomi.

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menytakan di Indonesia, sebagian penduduk asli masih berpandangan negatif terhadap etnis Tionghoa. Ini karena dampak dari sistem politik Tiongkok. Namun masyarakat Tiongkok tidak perlu khawatir karena umat muslim di Indonesia amat toleran. Oleh karena itu, kita harus berperan aktif bersama.

Untuk mendorong komunikasi timbal balik dan menghilangkan kesalahpahaman di antara masyarakat kedua negara.

Hermawan Kartajaya mengatakan sangat penting memahami sosial budaya Indonesia dan Tiongkok. Memahami budaya suatu negara dapat memperkuat hubungan diplomatik antara kedua negara dan hubungan antar rakyat kedua negara.

Dia berharap CIMA bisa menjadi platform media untuk memahami budaya kedua negara dengan lebih baik. Sangat penting untuk memahami sosial budaya suatu budaya. Setelah kita memahami sosial budaya suatu negara, maka kita bisa lebih memahami hukum dan politik negara tersebut. jhk/din

Sukris Priatmo

Sukris Priatmo

Tulis Komentar

WhatsApp