International Media

Rabu, 5 Oktober 2022

Rabu, 5 Oktober 2022

Cegah Lonjakan Covid-19, Beijing Tutup Seluruh Sekolah di Kota

Redam Lonjakan Covid-19, Tiongkok Tutup Semua Sekolah di Beijing

BEIJING(IM) — Beijing memperketat peraturan pembatasan sosial Covid-19 dengan menutup seluruh sekolah di kota itu. Ibukota Tiongkok tersebut berusaha mencegah penyebaran semakin meluas. Kota yang dihuni 21 juta jiwa itu akan menggelar tes massal ketiga pada Jumat (29/4) besok.
Pada Kamis (28/4) Biro Pendidikan Beijing memerintahkan semua sekolah untuk mengakhiri kelas tatap muka pada Jumat besok. Belum diketahui kapan belajar di sekolah kembali dilakukan, apakah sekolah menyediakan kelas daring atau mengizinkan siswa yang menghadapi ujian penting kembali ke kelas.
Beijing mengumumkan 50 kasus infeksi baru, dua diantaranya tanpa gejala. Sehingga total kasus infeksi gelombang wabah terbaru menjadi sekitar 150 orang. Sekitar 30 persen di antaranya siswa sekolah, klaster di enam sekolah dan dua taman kanak-kanak di Chaoyang.
Pada Kamis ini warga yang tinggal di dua komplek perumahan di distrik Chaoyang, Beijing juga diminta tinggal di rumah. Sejumlah klinik dan bisnis juga ditutup. Beijing bergerak lebih cepat dibanding kota-kota Tiongkok lainnya dalam memberlakukan peraturan pembatasan sosial meski angka kasus infeksi rendah dan wabah masih dapat ditangani.
Tujuannya untuk menghindari peraturan pembatasan sosial lebih ketat seperti Shanghai. Kota berpenduduk 25 juta jiwa itu dilanda penyebaran virus corona varian Omicron. Banyak warga di Shanghai yang tidak bisa keluar rumah selama empat pekan lebih dan sekolah sudah digelar daring sejak bulan lalu.
Peraturan Covid-19 yang ketat memicu rasa frustasi dan kemarahan warga. Karena kelangkaan pangan dan kebutuhan dasar, ketidakmampuan rumah sakit menangani masalah kesehatan darurat lain dan buruknya pusat karantina dimana semua warga yang positif harus ditinggal.
Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok mengumumkan 11.285 kasus positif di seluruh Tiongkok. Sebagian besar tanpa gejala dan berada di Shanghai. Komisi juga melaporkan 47 pasien Covid-19 yang meninggal dunia.
Pada Rabu (27/4) kemarin pihak berwenang Kota Shanghai mengatakan mereka akan menganalisa tes massal yang terbaru untuk menentukan pemukiman mana saja yang dapat hidup lebih bebas.
Sementara itu, Sebagian besar penduduk asing atau ekspatriat mulai meninggalkan Shanghai, karena penguncian Covid-19 yang cukup berat. Hal ini merusak daya tarik kota paling kosmopolitan di Tiongkok daratan, dan mendorong orang lain untuk memikirkan kembali masa depan mereka di kota metropolitan tersebut.
“Jumlah orang asing di Tiongkok telah berkurang setengahnya sejak pandemi dimulai dan dapat berkurang setengahnya lagi musim panas ini,” kata Presiden Kamar Dagang Eropa, Joerg Wuttke.
Sekolah internasional Inggris Wellington College International Shanghai mengirim surat kepada orang tua pada 15 April. Surat tersebut menyatakan bahwa beberapa guru di sekolah tersebut ingin kembali ke negara asal mereka.
Beberapa keluarga sedang mempertimbangkan kembali masa depan mereka di Shanghai, dan memperpanjang batas waktu bagi orang tua untuk menarik anak-anak mereka dari sekolah. Namun Wellington College tidak menanggapi permintaan komentar.
Survei Kamar Dagang Amerika pada April menemukan, 44,3 persen responden mengatakan, mereka akan kehilangan staf ekspatriat jika pembatasan Covid-19 tetap berlaku hingga tahun depan. Pembatasan di Shanghai awalnya ditetapkan hanya untuk lima hari. Tetapi pembatasan diperpanjang hingga minggu keempat, dan tidak ada kejelasan kapan pembatasan tersebut dapat dicabut.
Beberapa ekspatriat yang telah meninggalkan Shanghai mengatakan, mereka harus menempuh upaya yang sulit untuk mencapai bandara. Mereka harus membayar taksi dengan harga tinggi yaitu mencapai 500 dolar AS. Padahal biasanya mereka hanya membayar taksi seharga 30 dolar AS.
Para ekspatriat juga harua berjuang melawan pekerja yang menghalangi kepergian mereka. Para ekspatriat juga terdampar di bandara setelah penerbangan mereka tiba-tiba dibatalkan. Salah satu ekspatriat yang enggan disebut namanya menggambarkan bagaimana dia dan putrinya yang berusia lima bulan tidur di lantai Bandara Pudong selama seminggu, dan kehabisan makanan. Dia terpaksa menginap di bandara karena memiliki masalah dengan dokumen bayinya, yang membuat dia tidak bisa naik pesawat. Penguncian telah menutup kantor visa dan banyak perusahaan administrasi di Shanghai
“Dengan apa yang saya hadapi, biarkan saya kembali ke negara saya dan melakukan sesuatu di sana,” kata wanita warga negara asing tersebut.
Shanghai adalah basis bagi sebaian besar perusahaan multinasional dan telah lama menjadi magnet bagi ekspatriat. Shanghai secara resmi menjadi rumah bagi 164 ribu penduduk asing tahun lalu. Jumlah tersebut menurun dibandingkan pada 2018, dengan 215 ribu pemegang visa kerja.
Seorang warga asing Jennifer Li berencana meninggalkan Shanghai. Dia telah sebelas tahun tinggal di kota tersebut. Li menggambarkan bagaimana dia dan keluarganya mengalami kesulitan mendapatkan makanan, dan ketakutan akan dipisahkan dari anggota keluarga jika terinfeksi Covid-19.
“Penanganan Covid-19 membuat kita sadar betapa nyawa manusia dan kesehatan mental manusia tidak penting bagi pemerintah ini,” ujar Li.***

Frans Gultom

Komentar

Baca juga