Catut Nama Kapolres Pandeglang, Oknum Wartawan Abal-abal Peras Guru

Ilustrasi.

Pandeglang (IM)- Para guru di Pandeglang dipusingkan dengan aksi sejumlah oknum yang datang ke sekolah dan mengaku sebagai wartawan. Mereka, bahkan tak segan mencatut nama Kapolres Pandeglang, AKBP Hamam Wahyudi untuk memeras guru dan meminta sejumlah nominal uang tertentu.

“Sering itu, om, biasanya mereka bilang ini sekolah bapak bisa saya laporin ke polisi, saya kenal sama Kapolresnya tinggal saya telepon,” kata GR guru SMA negeri di Pandeglang, Senin (8/3).

Selain nama AKBP Hamam Wahyudi, beberapa pejabat di Kejaksaan Negeri (Kejari) Pandeglang turut dicatut untuk membuat korbannya ketakutan. Ketika modus ini berhasil dilakukan, mereka akan meminta sejumlah uang sebagai biaya ganti ‘tutup mulut’.

“Datangnya rombongan, kemarin itu dua orang ngadep ke pak kepala terus yang lain ada yang ngambil foto sekolah. Saya kurang hapal mukanya, tapi ada satu orang ciri-cirinya pakai kalung gede dan pas dateng itu mereka langsung masang muka sangar-sangar,” jelasnya.

Untuk dikethui, dugaan pemerasan tersebut dilakukan rombongan oknum wartawan abal-abal saat sekolah menerima dana BOS. Modusnya, mereka akan mengorek berbagai informasi dari sekolah terkait pengelolaan dana dari Kementerian Pendidikan itu.

Namun ujung-ujungnya, mereka akan meminta uang mulai dari Rp5-10 juta sebagai biaya tutup mulut. Jika uang tersebut tidak segera disiapkan, mereka akan terus datang ke sekolah dan mengancam untuk mempublikasikan sederet masalah sekolah itu ke media.

“Uang itu kata mereka buat tutup mulut. Termasuk layanan pendampingan kalau ada wartawan dan LSM minta duit lagi ke sekolah,” terangnya.

Meski sudah beberapa kali dihiraukan, namun rombongan oknum wartawan abal-abal ini kerap datang kembali ke sekolah dan mengancam akan mempublikasi pengelolaan dana BOS. Parahnya, mereka bahkan datang ke rumah pribadi kepala sekolah dengan menebar ancaman yang sama.

“Mending kalau namunya pas hari kerja, ini kata kepala sekolah saya mereka hari libur juga datang ke rumah. Terus datangnya malem, kadang mau istirahat juga kepala sekolah saya jadi keganggu. Makanya ini om, saya minta bantuan supaya kelompok-kelompok seperti mereka segera ditindak dan enggak meresahkan lagi,” pungkasnya.

Sementara itu Direktur Aliasi Lembaga Independen Peduli Publik (ALIPP), Uday Suhada meminta agar para oknum wartawan abal-abal itu ditindak.

“Harus dipidanakan. Praktik semacam ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, mereka sering menjadikan para kepala SD, SMP, SMA/SMK sebagai ladang pemerasan ketika dana BOS cair,” kata Uday Suhada, Senin (8/3) saat dimintai pendapatnya.

Ia pun mendorong pihak sekolah berani melaporkan kejadian seperti ini ke polisi. Pasalnya, jika dibiarkan, oknum yang mengaku wartawan dan LSM itu akan terus-terusan datang ke sekolah melakukan pemerasan.

“Karena bagi saya, mereka adalah para preman yang memakai topeng jurnalis atau LSM. Jadi, kepala sekolah mestinya berani untuk melaporkan pemerasan itu. Jika tidak ada kesalahan dalam mengelola dana BOS dan mengelola sekolah yang dipimpinnya, kenapa juga harus takut?” tegasnya.

Dihubungi terpisah, Kapolres Pandeglang, AKBP Hamam Wahyudi memastikan akan menindaklanjuti informasi tersebut. Ia pun mendorong guru hingga kepala sekolah berani melaporkan kejadian ini ke polisi supaya anggotanya bisa leluasa bergerak.

“Silakan laporkan jika memang terjadi, nanti bisa kami tindaklanjuti. Pelakunya tentu akan langsung kami amankan,” tegasnya. ***

Prayan Purba

Prayan Purba

Tulis Komentar

WhatsApp