Bupati Terpilih di NTT Berstatus WNA, Polisi Diminta Lakukan Pemeriksaan

JAKARTA (IM) –  Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah mengecek status kependudukan Bupati terpilih untuk Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Orient P Riwu Kore, yang disebut Bawaslu setempat masih berstatus warga negara (WN) Amerika Serikat (AS).

Hasilnya, ternyata nama Orient masih ada di dalam database kependudukan dan berstatus sebagai warga negara Indonesia (WNI). Saat ini, Kemendagri juga sedang melakukan koordinasi dengan Kemenkumham terkait hal ini.

“Sejak tahun 1997 yang bersangkutan sudah ada dalam database simduk (Sistem Informasi Manajemen Kependudukan) WNI,” kata Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif Fakrullah, Rabu (3/2).

Sebelumnya, Bawaslu Sabu Raijua mengklaim telah memperoleh kepastian status kewarganegaraan Orient P Riwu Kore.

”Pihak Kedubes AS di Jakarta sudah memberikan konfirmasi dan mengiyakan bahwa yang bersangkutan masih berkewarganegaraan AS,” kata Ketua Bawaslu Sabu Raijua Yugi Tagi Huma saat dihubungi dari Kupang, Selasa (2/2).

Sebabitu, Zudanmeminta polisi memeriksa Orient P Riwu Kore, untuk memastikan apakah ada yang dilanggar atau tidak dalam proses pencalonan di pilkada lalu.

“Saya berpandangan bahwa yang bersangkutan perlu diperiksa oleh polisi untuk mendalami kewarganegaraannya. Termasuk juga dokumen identitas yang bersangkutan saat mendaftar sebagai pasangan calon. Nanti akan bisa dilihat yang bersangkutan itu melakukan pelanggaran sistem hukum kewarganegaraan atau tidak,” ungkapnya.

Apakah masih banyak kasus kewarganegaraan ganda? Zudan belum dapat memastikannya. Namun dia tengah berkoordinasi dengan Kemenkumham terkait hal ini.

 “Saya sedang koordinasi dengan KumHAM untuk cek WNI yang jadi WNA sudah dilaporkan ke Dukcapil belum perubahan status WNI ke WNA-nya,” ujarnya.

Lebih lanjut Zudan pun membenarkan kemungkinan adanya perbedaan sistem kewarganegaraan membuat sejumlah oknum WNI tidak melaporkan perpindahan kewarganegaraannya.

Seperti diketahui Indonesia tidak mengakui dwi kewarganegaraan. Sementara negara lain seperti Amerika Serikat mengakui adanya dwi kewarganegaraan. “Iya mungkin (faktor itu),” tandasnya

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp