Biden Berharap Bisa Bertemu dengan Putin

WASHINGTON– Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengungkapkan harapannya untuk bisa bertemu dengan mitranya dari Rusia , Presiden Vladimir Putin , selama kunjungannya ke Eropa pada bulan Juni nanti. Ini adalah pertemuan diplomatik berisiko tinggi yang ia harapkan dapat memulihkan hubungan yang semakin tegang diantara kedua negara.

“Kami sedang mengerjakannya,” kata Biden di Gedung Putih seperti dikutip dari CNN, Rabu (5/5).

Pernyataan itu dilontarkannya menjawab pertanyaan tentang apakah dia berencana untuk bertemu dengan Putin selama perjalanan mendatang. Biden dijadwalkan akan menghadiri KTT Kelompok 7 di Inggris dan KTT NATO serta Uni Eropa di Brussel, Belgia. KTT tersebut berlangsung dari 11 Juni hingga 14 Juni.

Pernyataan Biden ini memberi kesan pembicaraan puncak yang diusulkannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dapat dilakukan secepatnya pada pertengahan bulan depan, ketika dia akan berada di Eropa untuk memulihkan hubungan trans-Atlantik dalam perjalanan luar negeri pertamanya sebagai Presiden.

Para penjabat memberikan sinyal jika pertemuan Biden dengan Putin kemungkinan akan terjadi setelah pertemuannya dengan mitranya di Eropa karena ia menghargai konsultasi dengan para pemimpin Barat sebelum duduk dengan Presiden Rusia tersebut.

Secara simbolis, kecil kemungkinan Biden akan melakukan keterlibatan diplomatik pertamanya di luar Amerika Serikat dengan Putin.

Di mana pembicaraan terjadi tetap menjadi pertanyaan terbuka. Para pemimpin Austria, Finlandia dan Republik Ceko telah menawarkan ibukotanya sebagai tempat potensial. Pejabat Gedung Putih telah menyatakan pertemuan itu akan terjadi di suatu tempat di Eropa.

Biden awalnya mengusulkan pertemuan puncak dengan Putin bulan lalu selama pembicaraan via telepon, dan kedua belah pihak telah bekerja untuk menyelesaikan rencana itu secara rinci sejak saat itu. Meskipun hubungan kedua negara memburuk karena masalah seperti Ukraina dan campur tangan pemilu, Biden berharap dapat membangun saluran komunikasi yang jelas yang akan menghindari insiden yang tidak semestinya.

Putin tampaknya menerima tawaran itu, bahkan setelah Amerika Serikat menerapkan sanksi baru yang keras dan hukuman lain terhadap Rusia, antara lain, perannya dalam serangan dunia maya besar-besaran terhadap badan-badan pemerintah.***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp