International Media

Jumat, 30 September 2022

Jumat, 30 September 2022

BI Pastikan Likuiditas Dolar AS Aman Meski Ada Intervensi untuk Rupiah

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Solikin Juhro.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memastikan likuiditas Dolar Amerika Serikat (AS) aman, meskipun terdapat intervensi untuk nilai tukar Rupiah yang melemah belakangan ini sehingga sedikit menggerus cadangan devisa.

Dalam intervensi kurs Garuda, Bank Sentral memang membutuhkan penguatan cadangan devisa, namun kestabilan nilai tukar Rupiah tetap diupayakan dengan memperhatikan mekanisme pasar.

“BI ada di pasar sehingga tidak perlu khawatir dengan likuiditas Dolar AS,” kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Solikin Juhro dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, seperti dilansir Antara,  Rabu (7/9).

Ia menjelaskan pada tahun ini, kebijakan moneter diarahkan kepada stabilitas, sehingga berbagai cara dilakukan untuk mengupayakan nilai tukar Rupiah terjaga sesuai dengan mekanisme pasar dan nilai fundamentalnya.

Langkah tersebut dilakukan baik melalui intervensi di pasar valuta asing (valas), jual beli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, hingga normalisasi likuiditas melalui kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM).

Kendati begitu seluruh intervensi tersebut akan tetap dilakukan dengan memelihara likuiditas di pasar uang maupun valas, serta tidak mengganggu kemampuan perbankan untuk melakukan intermediasi dan membeli surat utang negara.

“Salah satu kuncinya adalah bagaimana kami di dalam konteks menjaga ruang untuk melakukan intervensi adalah terjaganya kecukupan cadangan devisa atau suplai devisa di pasar agar tidak terlalu ketat dan tidak terlalu longgar,” kata Solikin.

Disampaikan Solikin, selain Rupiah,   inflasi juga akan tetap dijaga dari tekanan eksternal dengan tetap mengelola atau mendorong momentum pemulihan ekonomi yang sedang berlangsung.

Baru-baru ini, Otoritas Moneter telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sebagai langkah pre-emptive untuk menghadapi potensi kenaikan inflasi inti dan juga ekspektasi inflasi, sebagai dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)

Pada kesempatan itu Solikin juga mengingatkan ancaman stagflasi global akan terus mengemuka. Pasalnya harga komoditas yang masih sangat tinggi akan menyebabkan peningkatan inflasi dan respons kenaikan suku bunga acuan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi. “Tentunya kondisi ini menjadi momok sehingga memang kita melihat adanya tekanan stagflasi,”  kata Solikin.

Ia menjelaskan ancaman stagflasi global akan memberi dampak kepada Indonesia melalui tiga jalur yakni perdagangan dengan adanya pelemahan ekspor, komoditas dengan kenaikan harga, serta keuangan yang memicu respons kebijakan dari negara maju.

Meski begitu, kata dia, patut disyukuri Indonesia sampai saat ini merupakan salah satu negara yang cukup berdaya tahan, lantaran masih bisa tumbuh 5,44 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2022.

Dari sisi eksternal, lanjutnya, neraca pembayaran Indonesia juga sangat bagus dengan tekanan nilai tukar yang terkelola lebih baik dibanding negara lain meski terdepresiasi.

Namun Solikin menyebutkan permasalahan domestik saat ini memang sedang terfokus pada inflasi dari sisi pasokan dan global. “Apalagi di tengah-tengah mobilitas masyarakat yang memang mulai meningkat,” katanya.

Maka dari itu ia menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap harus dijaga karena belum terlalu kuat untuk menghadapi berbagai ketidakpastian global. Di sisi lain, kebijakan moneter akan diarahkan kepada stabilitas baik melalui kebijakan suku bunga acuan, stabilisasi nilai tukar Rupiah, serta pengetatan likuiditas.***

Vitus DP

Komentar

Baca juga