International Media

Selasa, 4 Oktober 2022

Selasa, 4 Oktober 2022

Berpuasa di Negeri Tanpa Matahari Terbenam dan Terbit

Kisah puasa viral di media sosial Dr. Waleed Hakeem (Foto YouTube).

Cerita tentang berpuasa di setiap negara selalu berbeda-beda dan selalu ada saja cerita yang unik, seperti yang dikisahkan  Dr Waleed Hakeem, yang terkenal dengan dakwahnya di media sosial (medsos).

Melalui video yang diunggah di akun YouTube-nya pada 2019 lalu, Hakeem menjelaskan kisah berpuasa yang tak biasa di Arktika Norwegia. Di video itu, Hakeem memperlihatkan dirinya baru saja selesai salah Tarawih di saat matahari masih terlihat bersinar terang. Padahal saat itu sudah tengah malam.

“Saya ingin perlihatkan matahari di tengah malam. Anda mugkin sudah pernah mendengar tentang matahari tengah malam sebelumnya. Tetapi sekarang saya akan menunjukkannya kepada Anda. Subhanallaah,” terangnya.

“Ini dia tepat di belakang saya, sebagaimana yang anda saksikan. Mataharinya seolah-olah akan menyentuh gunung. Terlihat seperti terbenam tetapi tahun ini tidak ada matahari terbenam,” lanjutnya.

Hal lain yang mengejutkan yakni matahari itu tidak tidak terbenam di barat. Tapi di utara. Mengapa? Hakeem mengatakan karena matahari ini akan terus memutari langit di sini, tidak terbenam. Akan terus berputar-putar sepanjang hari.

Hal lain yang cukup mencengangkan yakni di sana juga ada bulan purnama saat ada matahari di tengah malam.

“Anda bisa saksikan, Subhanallaah. Saya akan sampaikan pada Anda sesuatu yang sangat menakjubkan bahwa matahari tengah malam ini sebenarnya telah disebutkan di Surat Al-Kahfi, ketika Allah SWT menceritakan tentang kisah Zulqarnain ‘alayhis salam. Allah SWT memberikannya kemampuan untuk melakukan perjalanan di bumi, ke arah timur dan barat jauh dan selama perjalanan itu, Allah SWT mengatakan bahwa ketika Zulqarnain pergi, dia melihat beberapa orang yang allah tidak berikan pelindung apapun dari matahari itu. (QS. Al Kahfi-90),” ungkapnya.

Saat menceritakan kisah itu, Hakeem menunjukkan dirinya memakai jaket yang sangat tebal. Ini mengartikan betapa dinginnya suhu di sana. Dia mengatakan jika kondisi ini membuat dia dan warga Muslim lainnya tidak merasakan haus saat berpuasa, namun lebih merasakan lapar.

“Dan kebanyakan orang-orang saat ini sudah pada tidur sebab nanti harus kerja. Sementara muslim belum tidur karena baru saja selesai salat Tarawih dan sementara lagi mereka akan makan sahur. Dan seseorang mengatakan bagaimana anda berpuasa di sana, di tempat di mana tidak ada matahari terbenam ataupun terbit? Apa yang Anda lakukan?,” ujarnya.

Dia mengatakan saat ini ada beberapa fatwa dan muslim di sana memilih fatwa yang menyatukan mereka di wilayah ini.

Ada sekitar 1.200 muslim di sana. Banyak dari mereka datang dari kota-kota kecil di sekitar Arktika Norwegia. Mereka pun memutuskan mengikuti fatwa dari Al Azhar yaitu berpuasa dengan mengikuti waktu Makkah.

“Jadi kami mengikuti waktu Makkah. Itulah mengapa ketika kami berbuka puasa, matahari masih ada di depan kami. Beberapa di antara kalian mungkin berkata ini haram karena matahari belum terbenam. Jadi apa yang harus kami lakukan tepatnya? Itulah yang kami ikuti dan setelah itu, kami mengiktui waktu Tarawih di Makkah, termasuk mengikuti waktu salah Subuh di Makkah,” jelasnya. Kendati demikian, Hakeem menegaskan tidak selamanya waktu berpuasa di Norwegia akan seperti itu. Dalam beberapa tahun di bulan Ramadan, ada matahari terbit dan terbenam. Dan saat itu terjadi, mereka harus berpuasa mengikuti waktu lokal yang sangat panjang yakni hampir 22 jam.***

Osmar Siahaan

Komentar

Baca juga