BEM UI: “Jokowi The King of Lip Service” Bukan Serangan Personal, tetapi Kritik atas Kebijakan

Konten yang diunggah BEM UI di media sosialnya menuai polemik.

JAKARTA – Ketua Badan Ekskutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) Leon Alvinda Putra menegaskan, unggahan “Jokowi: The King of Lip Service” bukan serangan secara personal kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Leon keberatan apabila kritik tersebut disamakan dengan serangan personal yang menyebut Jokowi klemar-klemer atau plonga-plongo.

“Ketika Pak Jokowi misalnya memberikan respons bahwa beliau ini sebelumnya pernah di pernah dikatakan klemar-klemer, plonga-plongo, maka saya akan menyampaikan kurang sepakat dengan pendapat itu,” kata Leon dalam acara virtual Iluni UI, Jumat (9/7).

“Ketika the king of lip service ini disamakan dengan serangan personal ke beliau seperti itu,” tuturnya.

Menurut mahasiswa jurusan manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI ini, unggahan “Jokowi: The King of Lip Service” adalah untuk mengkritik kebijakan Jokowi sebagai presiden. Sebab, selama ini banyak pernyataan Jokowi yang dinilai tidak berbanding lurus dengan kebijakan yang diimplementasikan.

Leon menuturkan, banyak permasalahan bangsa yang selama ini dikawal oleh BEM UI dan aliansi gerakan masyarakat lainnya. Ia menilai, Jokowi kerap memberikan pernyataan yang hanya bersifat angin segar, seolah ingin menyelesaikan polemik.

Leon mencontohkan pernyataan Jokowi terkait revisi UU ITE dan rencana penerbitan perppu untuk membatalkan revisi UU KPK. Namun, dalam impelementasinya pernyataan Jokowi bertolak belakang dengan realitas di masyarakat.

“Karena menurut kita dengan beliau sampaikan misal revisi UU ITE, terkait perppu UU KPK, dan sebagainya,” katanya.

“Menurut kita, beliau sudah paham ada masalah di situ dan seharunsnya itu bisa dipastikan atau segera diselesaikan,” ujar Leon.

Sebelumnya, BEM UI memublikasikan unggahan berjudul “Jokowi: The King of Lip Service” di akun media sosial mereka, Sabtu (26/6) lalu. Dalam unggahan tersebut, BEM UI mengkritik sejumlah janji dan keputusan Jokowi, mulai dari rindu didemo, revisi UU ITE, penguatan KPK, hingga rentetan janji lainnya.

 Presiden Joko Widodo pun tidak keberatan atas postingan tersebut karena hal itu merupakan bentuk ekspresi mahasiswa. Namun, dia mengingatkan bahwa Indonesia memiliki budaya tata krama dan sopan santun. Jokowi juga menyinggung sederet julukan dan sebutan yang pernah diberikan kepadanya. “Itu kan sudah sejak lama ya. Dulu ada yang bilang saya ini klemar-klemer. Ada yang bilang saya itu plonga-plongo. Kemudian ganti lagi ada yang bilang saya ini otoriter,” ujarnya dalam keterangan pers di YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (29/6) lalu.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp