International Media

Selasa, 29 November 2022

Selasa, 29 November 2022

BEI Bidik Transaksi Harian Rp14,75 Triliun pada 2023

Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

JAKARTA  – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) berharap investor pasar modal tidak terpengaruh gejolak tahun politik. Para pelaku pasar utamanya para investor ritel diharapkan tidak terpengaruh.

“Kami berharap investor ritel tidak terpengaruh, agar target rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) yang sudah dicanangkan dapat tercapai,” kata Direktur BEI Risa E. Rustam dalam konferensi pers, Rabu (26/10).

BEI menargetkan RNTH pada 2023 bisa mencapai Rp14,75 triliun, lebih tinggi dari tahun 2022 yang sebesar Rp13,75 triliun. Target tersebut dibuat berdasarkan pengembangan yang akan dilakukan BEI, serta penetapan penggunaan asumsi dalam penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) 2023 yang lebih optimis.

Hal ini seiring dengan pemulihan ekonomi yang mulai berlangsung sepanjang tahun 2022. Namun, BEI akan tetap memperhatikan perkembangan penanganan Covid-19 di Indonesia, serta kondisi perekonomian global.

“Sebagaimana di tahun pemilu yang sudah-sudah, investor kita cukup dewasa sehingga tidak mempengaruhi RNTH,” ujarnya.

BEI juga menargetkan sebanyak 70 efek baru dapat tercatat di bursa pada 2023 mendatang. Adapun, efek baru tersebut terdiri dari pencatatan efek saham, obligasi korporasi baru, dan pencatatan efek lainnya meliputi Exchange Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE), serta Efek Beragun Aset (EBA).

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna mengatakan, BEI optimistis target tersebut dapat tercapai. Pasalnya, per Oktober tahun ini sebanyak 44 perusahaan telah melantai di bursa, kemudian 1 ETF dan 8 obligasi korporasi baru tercatat.

“Jadi pencapaian kami saat ini relatif sudah hampir 75%,” kata Nyoman

Terkait perusahaan yang akan melakukan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), saat ini terdapat 45 perusahaan berada dalam pipeline IPO, dengan 11 perusahaan di antaranya telah mendapatkan izin publikasi atau pre-efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan 4 perusahaan lainnya telah mendapat izin prinsip dari regulator. “Setelah itu, perusahaan lainnya akan berusaha mengejar untuk tahun ini, atau dapat dilakukan proses untuk tahun berikutnya,” ungkap dia.

Untuk meningkatkan jumlah perusahaan tercatat, BEI berkolaborasi dengan OJK, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Efek Indonesia (KSEI) dalam melakukan edukasi pasar modal terpadu. Mayoritas kegiatan tersebut sudah rutin dilaksanakan secara virtual melalui media online. BEI juga akan terus menerus secara aktif menarik perusahaan tercatat baru dari sektor New Economy, Start-Up, dan Renewable Energy.

“Tujuannya, tentu kami ingin berada dekat dengan mereka untuk tahu apa yang bisa kami bantu, guna mempercepat akselerasi mereka masuk ke pasar modal,”kata Nyoman.***

Vitus DP

Komentar