Tuesday, 16 April 2024

Search

Tuesday, 16 April 2024

Search

Baduy Dalam Tertutup Bagi Wisatawan Selama Kawalu

Masyarakat Baduy Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, berkumpul di tanah lapang menyambut kunjungan Menteri BUMN Erick Thohir.

LEBAK- Perkampungan masyarakat Baduy Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, selama pelaksanaan tradisi Kawalu atau bulan larangan, tertutup bagi wisatawan.
Masyarakat Baduy Dalam selama 3 bulan tersebut akan menjalani ritual adat penyucian diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selama masa penyucian itu, wisatawan itu tentu dilarang memasuki permukiman Baduy Dalam,  antara lain, Kampung Cibeo, Cikawartana, dan Cikeusik. Sebab, selama masyarakat Badui Dalam menjalani ritual Kawalu, diperlukan ketenangan.
Oleh karena itu, selama ritual itu berlangsung, wisatawan hanya boleh mendatangi permukiman masyarakat Baduy Luar atau Baduy penamping.
Tetua adat Baduy sekaligus Kepala Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Jaro Saija minta wisatawan mematuhi larangan itu, tidak memaksakan diri memasuki kawasan perkampungan Baduy Dalam.
Penetapan Kawalu itu berdasarkan petuah Tetua Adat Tangtu Tilu Jaro Tujuh Lembaga Adat Desa Kanekes dan masyarakat Badui Dalam.

Ritual Kawalu bagi masyarakat Baduy Dalam, berdasarkan kesepakatan tangtu tilu (pemimpin adat) dan pada hari ke-18 mereka melaksanakan puasa kemudian menggelar upacara ritual ngeriung selamatan.
Setelah melaksanakan Kawalu,  masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar akan turun gunung menggelar Seba Baduy dengan mendatangi Bupati Lebak dan Gubernur Banten untuk bersilaturahmi.
Kegiatan Seba Baduy bersilaturahmi bersama ‘Ibu Gede’ Bupati Lebak dan ‘Bapak Gede’ Gubernur Banten itu juga akan diikuti masyarakat Baduy Dalam. Mereka akan berjalan kaki ke Rangkasbitung dan Kota Serang sejauh kurang lebih 160 kilometer pergi-pulang.
Bagi masyarakat Baduy, ke mana pun pergi harus berjalan kaki karena dilarang naik atau menumpang kendaraan roda dua maupun roda empat, namun untuk warga Baduy Luar boleh naik kendaraan.
“Dengan pelaksanaan Kawalu itu kami berharap masyarakat Baduy sejahtera, damai, dan sehat selalu,” kata Jaro Saija.
Masyarakat Baduy yang berpenduduk 16.000 jiwa dan tersebar di 68 perkampungan itu menjadikan Kawalu sebagai upacara yang wajib dilaksanakan setiap tahun, baik laki-laki, perempuan, kalangan muda hingga orang tua.
Ritual Kawalu merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Baduy kepada Sang Maha Kuasa atas anugerah hasil alam yang diberikan.
Kehidupan masyarakat Baduy dikenal hanya mengandalkan penghasilan ekonomi dan ketahanan pangan dari huma ladang dengan menanam padi huma, pisang, jagung, jahe, kencur, endog tiwu, sayur-sayuran, dan cabai. Tradisi Kawalu sudah berlangsung ratusan tahun oleh masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar. Ritual ini merupakan upacara adat yang sakral.
Jika masyarakat Baduy tidak melaksanakan tradisi Kawalu diyakini akan mengakibatkan musibah dan menimbulkan malapetaka. Oleh karena itu, Kawalu wajib diikuti oleh seluruh warga Baduy.
Namun, upacara suci itu hanya dipusatkan di tiga kampung tangtu atau Badui Dalam dengan tiga Puun di masing-masing kampung, yakni Cibeo, Cikeusik, dan Cikertawana.
Pelaksanaan upacara Kawalu bertempat di bale yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggal puun/pemangku adat. Masyarakat Baduy Dalam maupun Badui Luar dapat berkumpul dan memenuhi bale itu. ***

Prayan Purba

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media