Tuesday, 05 March 2024

Search

Tuesday, 05 March 2024

Search

Apresiasi Tema Imlek Nasional yang Digelar MATAKIN, Wapres : Menggelorakan Semangat Memperbaiki Diri

Menag Yaqut Cholil Qoumas (tengah) memukul tambur pembuka perayaan Imlek Nasional.

JAKARTA—-Wakil Presiden  Ma’ruf Amin mengapresiasi tema yang diangkat dalam perayaan Imlek Nasional 2575 Kongzili yang digelar keluarga besar MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) bekerjasama dengan Pusbimdik (Pusat Bimbingan dan Pendidikan) Khonghucu Kementerian Agama, di Gedung Samudera, Jakarta pada Senin (13/2). Tema tersebut yakni “Malu bila Tidak Tahu Malu, Menjadikan Orang Tidak Menanggung Malu”.

          Menurut Wapres tema tersebut menjadi cermin untuk menggelorakan semangat memperbaiki diri di momentum Tahun Baru Imlek.

Wapres Ma’ruf Amin.
Menag Yaqut Cholil Qoumas.
Xs. Budi S Tanuwibowo.

          “Saya kira tema ini sarat makna, baik dalam konteks refleksi hubungan antara individu dengan Tuhannya maupun antar sesama dalam dinamika kehidupan berbangsa dan  bernegara,” jelas Wapres saat memberikan kata sambutan secara daring.

          Kembali Wapres menjelaskan rasa malu merupakan sifat fundamental untuk terwujudnya kebaikan sekaligus  untuk menciptakan jarak dari keburukan. Seseorang yang memiliki rasa malu akan  takut melakukan tindakan yang tidak sesuai norma, nilai, dan etika. Dengan  demikian, ia tidak akan melakukan perbuatan yang menyakiti sesamanya.

Menag Yaqut Cholil Qoumas berfoto bersama Wamenag Saiful R. Dasuki, Kepala Pusbimdik Khonghucu Kemenag Susari, Prof. Jimly Asshiddiqie, Agus Harimurti Yudhoyono dan isteri, Wakapolri Komjen Pol. Agus Andrianto, Kasum TNI  Letjen TNI Bambang Ismawan, Ketum MATAKIN Xs. Budi S Tanuwibowo dan jajaran.

          “Karena itu, seluruh pemuka agama, termasuk pemuka agama Khonghucu, memiliki peran penting dalam membudayakan rasa malu di kalangan umat. Ajaran,  nasihat, dan edukasi kepada umat terus diperlukan, agar rasa malu dalam diri  individu mampu berkembang menjadi sebuah tata nilai komunal yang mengukuhkan  identitas bangsa. Dengan demikian, keteraturan, kerukunan, dan persatuan bangsa  ini senantiasa terpelihara,” sambung Wapres.

          Tahun ini merupakan tahun ke-25 bagi umat Khonghucu dan Masyarakat Tionghoa dapat merayakan Tahun Baru Imlek secara nasional.

Harris Chandra dan Menang Yaqut Cholil Qoumas.

          Perayaan Imlek Nasional ini dibuka oleh Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas dan dihadiri antara lain Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki, Kepala Pusbimdik Khonghucu, Kemenag Susari, Ketua Dewan Kehormatan MATAKIN Prof. Dr. H. Jimly Asshiddiqie, Ketua Umum MATAKIN Xs. Budi S Tanuwibowo, Agus Harimurti Yudhoyono dan isteri, Wakapolri Komjen Pol. Drs. Agus Andrianto, Kasum TNI  Letjen TNI Bambang Ismawan, Harris Chandra, Sekjen Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa) Candra Jap, Pendiri Perhimpunan INTI Nancy Wijaya, Ketua Umum PINTI dr Metta Agustina, Ulung Rusman, Peneliti Novi Basuki, pemuka agama dan ribuan umat Konghucu.

          Dalam sambutannya, Menag juga ikut  mengapresiasi tema yang diagkat dalam perayaan Imlek tahun ini. Menurutnya pesan yang disampaikan sangat bagus, mengajak semua orang tahu diri agar kedepan tidak menanggung malu.

“Perayaan imlek selain mengajak kita bahagia juga sebagai ruang refleksi bersama bagi umat manusia terutama bagi umat Khonghucu agar lebih baik ke depan,” ujarnya.

Candra Jap, Ulung Rusman dan Novi Basuki.
Nancy Wijaya,  dr Metta Agustina dan tamu kehormatan lainnya.

          Menag mengatakan Kementerian Agama selalu menghormati hari besar keagamaan. Bukan hanya Idul Fitri dan Natal, namun Tahun Baru Imlek pun memiliki kedudukan yang sama. Oleh karena itu. Menag menginstruksikan kepada seluruh Jajaran Kemenag turut memasang ornamen khas nuansa Imlek, seperti lampion, bunga Mei Hwa dan sebagainya, pada setiap kantor Kementerian Agama.

          Hal senada juga disampaikan Ketua Umum MATAKIN Xs. Budi S Tanuwibowo, bahwa tema yang diangkat untuk perayaan Imlek Nasional tahun ini bertujuan untuk mengingatkan kita bahwa harus senantiasa mawas diri dalam melakukan segala perbuatan, apakah perbuatan tersebut akan membuat malu bagi diri sendiri atau tidak, karena dengan senantiasa mawas diri untuk menghindari perbuatan – perbuatan yang akan membawa malu bagi diri sendiri akan menjadikan kita terhindar dari menanggung malu.

Ribuan umat Khonghucu hadiri perayaan Imlek Nasional.

          “Kita semua terutama para paslon dan para calon wakil rakyat diingatkan untuk selalu ingat bahwa semanis-manisnya kekuasaan akan bisa hancur dan bisa saja dibayar dengan ongkos yang mahal persatuan itu sendiri, kalau kita tidak hati-hati. Maka rasa malu harus menjadi rem, karena betapun nikmat kekuasaan yang lebih penting adalah persatuan dan keutuhan bangs aini,” terang Budi. ***

Sukris Priatmo

Berita Terbaru

Baca juga:

Follow International Media