Angka Kematian Akibat Gangguan Fungsi Ginjal Terus Meningkat

JAKARTA(IM)- Gangguan fungsi ginjal masih belum banyak dipahami oleh sebagian besar masyarakat. Banyak di antara mereka yang tak sadar bahwa ginjalnya mengalami gangguan sehingga bertambah parah dan berujung kematian. Tak heran jika angka kematian akibat gangguan fungsi ginjal makin meningkat.
Tidak terlalu populer sebagai penyakit mematikan lainnya, seperti jantung, stroke, kanker maupun diabetes . Penyakit gangguan fungsi ginjal, khususnya di Indonesia tidak boleh dianggap remeh.
Tahukah Anda, bahwa angka kematian di dunia akibat penyakit gangguan fungsi ginjal semakin naik setiap tahunnya? Dari data angka kematian GBD 2015 Mortality and Causes of Death Collaborators, tercatat gangguan fungsi ginjal yakni penyakit ginjal kronik pada 2015 ada di peringkat ke-17 sebagai penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia.
Sebagaimana dijelaskan dalam persentasi dr. Aida Lydia, Ph.D., Sp.PD-KGH, spesialis penyakit dalam sekaligus ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia, Rabu (10/3), dalam dunia medis gangguan fungsi ginjal dibagi dalam dua kategori, akut dan kronik.
Gangguan fungsi ginjal akut adalah penurunan fungsi ginjal yang mendadak (baru terjadi). Sementara yang kronik, penurunan fungsi ginjal yang sudah lama terjadi, indikatornya terjadi lebih dari tiga bulan. Inilah yang disebut dengan penyakit ginjal kronik (PGK), penurunan fungsi ginjal atau adanya kerusakan struktur ginjal yang progresif dan berlangsung lebih dari tiga bulan lamanya.
Banyak hal yang menjadi kriteria dari PGK, sebagai penanda telah terjadinya kerusakan pada ginjal. Bisa terjadi hanya satu pertanda, atau bahkan bisa lebih. Pertama, adanya albumin atau protein di urin, sel darah merah di urin, terjadinya peningkatan kreatinin darah, ada kelainan pemeriksaan biopsi ginjal, ada kelainan pada pencitraan, dan ada riwayat transplan ginjal.
Untuk penyebab penyakit ginjal kronik, ada tiga faktor terbesar. Dari data Indonesian Renal Registery, tercatat penyakit hipertensi atau darah tinggi dengan persentase 40persen jadi penyebab nomor satu terjadinya gagal ginjal.
Di peringkat kedua disusul oleh diabetes dengan persentasi 26persen, lalu glomerulonefritis yang seperti dikutip dari laman situs resmi Gleneagles Hospital adalah peradangan saringan kecil dalam ginjal (glomeruli) di posisi ketiga dengan persentase 11persen.
Dari data Kidney Int Rep tahun 2020 disebutkan bahwa 1 dari setiap 10 orang di dunia mengalami penyakit ginjal kronik. Seperti penuturan dr. Aida, parahnya, 9 dari 10 orang dengan penyakit ini tidak menyadari kalau dirinya sudah jatuh sakit.
“Sekitar sepertiga pasien dengan PGK belum mengetahui benar mengenai penyakitnya dan perjalanan penyakitnya serta modalitas terapi yang ada setelah mengalami penyakit ginjal tahap akhir (PGTA) atau gagal ginjal terminal,” ujar dr. Aida
Akhirnya karena tidak tahu kalau sudah sakit tahap kronis, perawatan dan pengobatan yang bisa dijalani pun menjadi semakin terbatas.
“Biasanya pasien datang dalam kondisi yang sudah lanjut, di mana fungsi ginjal sudah sangat rendah dan telah terjadi komplikasi akut dari PGK itu sendiri, sehingga pilihan pengobatan yang ditawarkan saat itu juga terbatas,” pungkasnya.
Sementara itu, menerapkan pola hidup sehat adalah salah satu kunci agar masyarakat bisa terhindar dari kerusakan ginjal yang berujung pada cuci darah.
Data Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) memperlihatkan kurva pasien penyakit ginjal selalu mengalami kenaikan pesat setiap tahun. Pada 2017, jumlah pasien aktif adalah 77.892 dan pasien baru 30.831. Lalu tahun 2018 sebanyak 135.486 dan pasien baru 66.433, dan pada 2019 tercatat naik menjadi 185.901 pasien aktif, sedangkan pasien baru menjadi 69.124.
Sekretaris Jenderal Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Petrus Haryanto mengatakan, pasien juga harus memiliki tujuan hidup lebih baik di tengah keterpurukan yang dialami.
Menurutnya, agar bisa hidup berkualitas, masyarakat juga harus mengetahui dan memahami apa itu penyakit ginjal kronik dan bagaimana pencegahannya. Menerapkan pola hidup sehat adalah salah satu kunci agar masyarakat bisa terhindar dari kerusakan ginjal yang berujung pada cuci darah.
“Karena gagal ginjal itu bukan penyakit menular. Ini sebuah penyakit yang harusnya bisa dicegah. Dengan kata kunci publik harus memahami serta meningkatkan kesadaran untuk menjaga kesehatan tubuh dan ginjalnya,” kata Petrus dalam peringatan World Kidney Day (WKD), Kamis (11/3).
Petrus menuturkan, peringatan WKD tahun ini harus dijadikan ajang kampanye besar-besaran bagi seluruh pihak untuk menyebarluaskan tentang penyakit ginjal sekaligus menjadi momentum untuk hidup berkualitas dan berkarya semaksimal mungkin.
“Terus membangun public awareness di masyarakat sehingga timbul keingintahuan mereka akan kesehatan ginjal. Bahwa momentum WKD harus bergaung dan publik bisa memahami bahwa gagal ginjal bisa kita dicegah,” ujarnya.
Petrus juga menilai apa yang dilakukan pemerintah saat ini dirasa kurang optimal karena masih banyak permasalahan yang menyulitkan kehidupan para pasien gagal ginjal untuk melakukan proses cuci darah. Ia mencontohkan, masih banyak rumah sakit yang belum memberikan hak pasien untuk mendapatkan jaminan obat-obatan yang sudah diatur dalam regulasi Kementerian Kesehatan.
“Misalnya, pasien yang berobat ke rumah sakit tipe A akan mendapatkan pelayanan maksimal, sementara pasien yang berobat ke rumah sakit tipe D tidak akan mendapatkan pelayanan yang sama,” ungkapnya.***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp