International Media

Minggu, 22 Mei 2022

Minggu, 22 Mei 2022

Amad Berdarah Tionghoa Arab, Pelaku Sejarah Berusia 100 Tahun, Kisahnya Siap Dibukukan

Amad, Rasmono Sudarjo dan Djoko Pitono dan pengurus Yayasan Senopati.

SURABAYA–Seminggu lalu, Amad bertemu pengurus Yayasan Senopati dan berharap bisa membukukan kisah perjuangannya sebagai tentara yang mempertahankan Surabaya bersama Bung Tomo pada 10 Nopember 1945.

       Amad yang lahir pada 7 Februari 1922 ini berdarah Tionghoa dari ibunya yang biasa dipanggil Nyonya Moi dan ayahnya berdarah Yaman bernama Muhammad Bindusu. 

       Rasmono Sudarjo bersama Liong Pangkiey Pong, pengurus Yayasan Senopati mengadakan pertemuan dengan Amad dan Djoko Pitono penulis buku, di kantor berita Harian Disway milik Dahlan Iskan, Jumat (1/4) lalu.

Pertemuan pengurus Yayasan Senopati bersama Amad. 

       “Kita mengadakan pertemuan persiapan untuk membuat kisah yang menceritakan perjuangan Pak Amad sebelum kemerdekaan dan waktu kemerdekaan. Sekarang beliau berusia 100 tahun perlu kita rekam pengalaman sebagai saksi hidup sejarah,” kata Rasmono Sudarjo

       Lebih lanjut Rasmono menyampaikan pihaknya harus menggali banyak sumber dari teman-teman perjuangan Amad yang masih hidup.

       Banyak kisah perjuangan yang dilalui Amad   mulai pertempuran hebat di jalan Tunjungan, penyobekan bendera di Hotel Yamato, menjadi saksi terbunuhnya Jenderal Malaby di Jembatan Merah Surabaya dan tragedi Nganjuk. 

       Saat peristiwa di Nganjuk, Amad sempat menyelamatkan bocah laki – laki kecil Tionghoa yang kini masih berhubungan erat dengannya. Bahkan setiap bertemu Amad, dia masih sering menangis.

Amad, Rasmono Sudarjo dan Djoko Pitono.

       Djoko Pitono mengatakan telah memulai menulis kisah perjuangan Amad sejak beberapa bulan lalu.

Djoko Pitono mengakui harus menemui banyak orang karena tidak ada catatan maupun dokumen perjuangan Amad. Namun daya ingatnya masih luar biasa. 

       “Harus berhati-hati dalam penulisan Pak Amad sebagai saksi dan pelaku perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, karena berkaitan dengan sejarah,” ujar Djoko Pitono penulis buku 100 Jurus Bisnis Alim Markus. 

       Amad adalah anggota BKR (Badan Keamanan Rakyat) dan Batalyon A36 Poncowati mengakui semasa perjuangan banyak warga Tionghoa yang turut mengangkat senjata.

“Mereka pejuang yang handal dan betah lapar,” ujar Amad yang mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Senopati yang peduli dengannya. vivi

Sukris Priatmo

Komentar