International Media

Selasa, 29 November 2022

Selasa, 29 November 2022

Alkindo Naratama Bukukan Laba Rp60,15 Miliar

JAKARTA  – PT Alkindo Naratama Tbk (ALDO) membukukan laba bersih Rp60,15 miliar pada kuartal III tahun ini. Laba emiten yang bergerak pada bisnis kertas dan bahan kimia ini naik 12% (YoY) dari Rp53,80 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama ALDO H. Sutanto mengatakan, dalam situasi di mana laju inflasi naik tinggi karena kenaikan harga bahan bakar minyak dan harga beberapa komoditas lainnya, ALDO mampu membukukan pertumbuhan positif baik penjualan maupun laba bersih. “Kita harapkan kinerja positif ini bisa terus berlangsung hingga akhir tahun 2022,” kata Sutanto dalam keterangan resminya, Jumat (28/10).

Jika dilihat per kuartal (Q to Q) perolehan laba bersih perseroan pada kuartal III meningkat 45% QoQ, di mana laba bersih yang diperoleh pada periode Juli-September sebesar Rp20,85 miliar meningkat pesat dibandingkan perolehan laba bersih pada periode April-Juni yang sebesar Rp14,33 miliar.

“Peningkatan laba bersih ini diperoleh berkat penjualan bersih yang meningkat 6% YoY menjadi Rp1,10 triliun, dari Rp1,04 triliun pada periode yang sama 2021,” ungkap Sutanto.

Total penjualan tersebut diperoleh dari penjualan sub sektor kertas yang meningkat 5% YoY menjadi Rp729,55 miliar dan penjualan sub sektor kimia yang meningkat 7% YoY menjadi Rp370.99 miliar.

Perseroan yang memiliki komitmen dalam pengembangan green product melalui green process dalam bisnisnya ini menggunakan kertas daur ulang yang diproduksi anak perusahaan PT Eco Paper Indonesia untuk menghasilkan berbagai macam produk.

Adapun kertas coklat seperti kraft liner, eco board, dan core board adalah produk utama dari Eco Paper yang menjadi bahan baku bagi industri kertas konversi.

Selain itu, melihat meningkatnya tren belanja online serta food delivery yang mendorong penggunaan packaging yang lebih sustainable. Perseroan melakukan strategi pengembangan usaha masuk ke pasar tas berbahan baku kertas atau paper bag serta paper box ke sektor FMCG, food and beverages (F&B) dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).***

Vitus DP

Komentar