International Media

Sabtu, 21 Mei 2022

Sabtu, 21 Mei 2022

Ahli Temukan Cara Deteksi Risiko Serangan Jantung dari Suara

ilustrasi penyakit jantung

JAKARTA(IM)– British Heart Foundations mencatat bahwa setiap tahunnya penyakit jantung dan peredaran darah bertanggung jawab atas lebih dari 160 ribu kematian di Inggris. Berkaca pada prevalensi itu, penting bagi kita untuk mengetahui tanda dan gejala yang menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan jantung.
Menurut sebuah studi baru, salah satu tanda penyakit jantung mungkin terdengar dari cara bicara seseorang. Peneliti Mayo Clinic di Amerika Serikat bekerja sama dengan University of Tel Aviv di Israel mengembangkan teknologi kecerdasan buatan untuk menganalisis sampel suara agar bisa memprediksi risiko seseorang.
Rekan penulis studi, dr Jaskanwal Deep Singh Sara mengatakan bahwa teknologi analisis suara itu tidak akan bisa menggantikan dokter atau metode layanan kesehatan lain yang telah ada. Namun, dia berharap teknologi tersebut bisa terus dikembangkan, diperluas, dan menjadi media pendukung pengobatan.
“Menyediakan sampel suara sangat intuitif, bahkan menyenangkan bagi pasien, dan itu bisa menjadi sarana yang terukur bagi kami untuk meningkatkan manajemen pasien,” kata dr Sara, seperti dilansir dari Express, Selasa (12/4).
Meskipun teknologi tidak akan menggantikan dokter, itu bisa menjadi alat vital dalam mengidentifikasi mereka yang berisiko terkena penyakit jantung koroner. Peneliti lainnya, dr Alan Sugrue, juga mengungkap bagaimana analisis suara dapat digunakan di bidang kesehatan lainnya.
Mengingat semua telekomunikasi saat ini umumnya digital, analisis suara dapat dengan mudah diintegrasikan ke dalam platform teknologi saat ini baik dengan analisis perangkat lunak pada platform atau transmisi rekaman suara digital ke area prosesi pusat. Teknologi analisis suara dan kesehatan manusia penuh dengan peluang yang tak terhitung jumlahnya.
“Kecerdasan buatan memiliki potensi untuk mempelajari suara dan berbagai variasinya, dengan demikian menentukan apakah perubahan substansial dan halus dapat berkorelasi dengan penyakit yang sub-akut atau akut,” kata dr Sugrue.
Dr Sara mengatakan, pengembangan biomarker digital telah mengalami kemajuan pesat selama pandemi Covid-19. Menurut dia, penggabungan analisis sinyal suara dengan kecerdasan buatan dan machine learning (ML) menawarkan solusi yang menarik dan inovatif untuk permintaan telemedicine yang terus meningkat.
Permintaan akan perawatan penyakit jantung diprediksi akan terus meningkat karena pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung. Selain masyarakat mengembangkan gaya hidup yang lebih buruk saat terjebak di rumah, virus corona juga berdampak pada jantung.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Nature Medicine, ditemukan bahwa Covid-19 meningkatkan risiko seseorang terkena serangan jantung sebesar 63 persen dan risiko strok sebesar 52 persen. Selanjutnya, risiko gagal jantung mereka meningkat sebesar 72 persen.
Para peneliti menulis bahwa risiko meningkat terlepas dari usia, ras, jenis kelamin, dan faktor risiko kardiovaskular lainnya, termasuk obesitas, hipertensi, diabetes, penyakit ginjal kronis, dan hiperlipidemia. Namun alasan kenaikan risiko tidak sepenuhnya diketahui.
Meskipun demikian, itu bisa menjadi sebagai peringatan. Ke depannya sistem kesehatan perlu disiapkan untuk menghadapi gelombang pasien penyakit jantung, baik karena kondisi terkait Covid-19 maupun yang disebabkan akibat pandemi.***

Frans Gultom

Komentar

Baca juga