International Media

Jumat, 30 September 2022

Jumat, 30 September 2022

Adaro Energy Targetkan Produksi Batu Bara 60 Juta Ton

JAKARTA – PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO)  optimis bisa mencapai target produksi batu bara sepanjang tahun ini.

Chief Financial Officer ADRO, Lie Luckman menjelaskan, perseroan selalu berusaha untuk bisa mencapai target produksi yang sudah ditentukan yaitu 58-60 juta ton untuk tahun 2022.

“Kami fokus kepada apa yang kami kontrol, apa yang bisa kami siapkan di lapangan, misalnya menyiapkan semua infrastruktur dan menyiapkan alat-alat produksi yang cukup sehingga target itu sendiri bisa kita capai,” kata Luckman dalam Public Expose Live 2022, Senin (12/9/2022).

Sedangkan, untuk harga batu bara itu sendiri masih cukup kuat. Menurut Luckman, secara garis besar ADRO cukup optimis untuk paruh kedua tahun ini.

ADRO membukukan kinerja positif sepanjang semester pertama 2022. Emiten pertambangan batu bara ini mencetak laba inti USD1,4 miliar atau sekitar Rp20,8 triliun, naik 338% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Naiknya laba sejalan dengan pertumbuhan pendapatan yang mencapai 127% menjadi USD3,54 miliar atau setara Rp52,54 triliun. Sementara EBITDA operasional naik 269% menjadi USD2,33 miliar atau sekitar Rp34,13 triliun.

Naiknya pendapatan ADRO pada paruh pertama tahun ini terutama akibat kenaikan 117% yoy pada harga rata-rata penjualan atau average selling price (ASP). Cuaca buruk, kelangkaan pasokan dan peristiwa-peristiwa geopolitis mendorong harga ke level yang tinggi dalam sejarahnya, sehingga menunjang kenaikan ASP perusahaan.

Walaupun menghadapi curah hujan tinggi dan masalah pengadaan alat berat, ADRO berhasil meningkatkan produksi 6% yoy menjadi 28,0 juta ton dari 26,5 juta ton pada semester pertama 2022. Peningkatan produksi membantu kenaikan penjualan batu bara sebesar 7% menjadi 27,5 juta ton dari 25,8 juta ton di periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, belanja modal bersih ADRO pada semester pertama 2022 naik 111% dari periode yang sama tahun lalu menjadi USD157 juta atau sekitar Rp2,33 triliun. Pengeluaran belanja modal pada periode ini terutama digunakan untuk pembelian dan penggantian alat berat dan biaya pemeliharaan kapal.

Direktur ADRO, Hendri Tamrin mengatakan bahwa mengenai permintaan batu bara kedepan, Adaro melihat fundamental yang positif utamanya disebabkan karena economic recovery post-Covid atau pemulihan ekonomi usai Covid-19 mereda.

“Tentunya juga sangat bargantung dengan kebijakan setiap negara dalam memenuhi kebutuhan energi dan kebutuhan bahan baku industri mereka,” jelas Hendri.***

Vitus DP

Komentar

Baca juga