7 Agenda Prioritas Finance Track Presidensi Indonesia di G20 2022

JAKARTA – Presidensi G20 Indonesia merupakan momentum strategis mempromosikan pemulihan ekonomi dunia yang inklusif dan komitmen penanggulangan perubahan iklim.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati terkait Presidensi Indonesia di G20 Tahun 2022  mengatakan, dalam Presidensi G20 Indonesia nanti pada finance track akan dibahas tujuh agenda yang berfokus pada penanganan isu-isu global terkini.

Yang pertama dan yang penting adalah negara-negara G20 akan membahas bagaimana berkoordinasi untuk memulihkan ekonomi global, sesuai tema Recover Together and Recover Stronger.

“Untuk bisa pulih bersama dan pulih menjadi lebih kuat dibutuhkan koordinasi policy global, disini yang paling sering akan dibahas adalah kapan negara-negara terutama di G20 yang semuanya melakukan kebijakan ekstraordinary di bidang fiskal dan moneter akan mulai menetapkan melakukan exit policy, yaitu mengurangi intervensi kebijakan makro yang luar biasa dan pasti tidak suistainable secara bertahap dan terkoordinasi,” ujar Sri Mulyani, dikutip dari laman Kemenkeu, Rabu (15/9).

Menurut Sri Mulyani, koordinasi exit policy perlu dilakukan agar pertumbuhan ekonomi di masing-masing negara dan pertumbuhan ekonomi global akan bisa sustainable atau terus berlangsung.

“Yang kedua, tentu bagaimana semua negara akan melihat dampak Covid yang tidak hanya di bidang kesehatan, ini yang disebut ada dampak scaring atau luka dari perekonomian akibat terjadinya Covid. Ada supply disruption, ada corporate yang mengalami kesulitan dari sisi neraca dan tidak kemudian demikian saja bisa kembali pulih. Juga pembahasan mengenai produktivitas dan memulihkan ekonomi kembali, bagaimana policy-policy akan bisa didesain,”  tuturnya.

Agenda ketiga adalah pembahasan mengenai mata uang digital Bank Sentral, serta agenda keempat mengenai pembiayaan yang berkelanjutan. “Karena sekarang isu mengenai bagaimana sektor keuangan mendukung agenda penting lainnya yang sangat penting di level global yaitu climate change, maka akan dibahas mengenai green finance facility termasuk bagaimana stimulus atau dukungan dibidang fiskal untuk menciptakan transformasi ekonomi menuju ekonomi yang hijau dan suistainable,” kata Sri Mulyani.

Kelima, adalah mengenai cross-border payment. Ini juga salah satu isu yang sangat penting dari sisi perkembangan payment sistem dengan berkembangnya digital teknologi dan digital ekonomi. Agenda keenam, akan membahas mengenai financial inclusion yang berfokus pada pengembangan kredit usaha kecil untuk UMKM, dan bagaimana digitalisasi dari usaha kecil menengah.

“Terakhir nanti kita akan juga membahas kemajuan dan pelaksanaan dari persetujuan dan perkembangan global taxation principle. Di sini akan dibahas berbagai pembahasan mengenai tax incentives, tax and digitalization, praktek-praktek penghindaran pajak atau tax avoidance terutama berkaitan tadi dengan base erosion profit shifting, dan tax transparancy, juga tax and development serta tax certainty,” ujarnya.***

Vitus Dotohendro Pangul

Vitus Dotohendro Pangul

Tulis Komentar

WhatsApp