52 Orang Tewas Mengenaskan Saat Salah Satu Pabrik Terbakar di Bangladesh

Ilustrasi

JAKARTA – Kebakaran hebat terjadi di sebuah pabrik makanan di Bangladesh dan menewaskan sedikitnya 52 orang. Puluhan orang lainnya terluka, dengan sebagian melompat dari lantai atas untuk menghindari kobaran api.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Jumat (9/7), Kebakaran terjadi di pabrik di Rupganj, dekat Dhaka, ibu kota Bangladesh pada Kamis (9/7) sore waktu setempat. Api masih berkobar hampir 24 jam kemudian.

Sekitar 30 orang terluka gara-gara melompat dari lantai atas untuk menyelamatkan diri.

Seperti diketahui, musibah kebakaran kerap terjadi di Bangladesh. Hal ini karena lemahnya penegakan aturan keselamatan. Pada Februari 2019, sebanyak 70 orang tewas ketika kobaran api melanda beberapa blok apartemen di Dhaka.

Polisi dan saksi mata mengatakan kebakaran terjadi di pabrik Makanan dan Minuman Hashem di Rupganj, sebuah kota industri di luar Dhaka, sekitar pukul 17.00 Kamis (8/7) dan masih berkobar hingga Jumat (9/7) pagi.

Inspektur Kepolisian Sheikh Kabirul Islam mengatakan, sedikitnya 30 orang terluka termasuk beberapa yang melompat dari lantai atas setelah api cepat menjalar ke pabrik enam lantai itu.

Para petugas pemadam kebakaran menyelamatkan 25 orang dari atap pabrik, yang memproduksi mie dan minuman itu.

“Begitu api dapat dikendalikan, kami akan melakukan operasi pencarian dan penyelamatan di dalam. Kemudian kami dapat memastikan adanya korban lebih lanjut, jika ada,” kata Debashish Bardhan, juru bicara dinas pemadam kebakaran, kepada AFP.

Mohammad Saiful, seorang pekerja pabrik yang lolos dari kebakaran, mengatakan ada puluhan orang di dalam saat kobaran api dimulai.

“Di lantai tiga, gerbang di kedua tangga ditutup. Rekan lain mengatakan ada 48 orang di dalam. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada mereka,” katanya.

Mamun, pekerja lain, mengatakan dia dan 13 pekerja lainnya berlari ke atap setelah kebakaran terjadi di lantai dasar dan asap hitam menutupi seluruh pabrik.

“Petugas pemadam kebakaran menurunkan kami dengan menggunakan tali,” katanya kepada wartawan.

Saat kepulan asap mengepul dari gedung pabrik, ratusan orang berkumpul di luar untuk mengetahui kabar terbaru dari kerabat mereka. Salah satunya adalah Nazrul Islam. “Kami datang ke sini karena keponakan saya tidak menjawab panggilan telepon kami. Dan sekarang telepon tidak berdering sama sekali. Kami khawatir,” katanya.***

Osmar Siahaan

Osmar Siahaan

Tulis Komentar

WhatsApp