International Media

Senin, 23 Mei 2022

Senin, 23 Mei 2022

5.000 Warga Mariupol Telah Tewas Akibat Serangan Rusia

Sebuah gedung apartemen yang rusak berat di Ukraina

ANDRIIVKA – Wali Kota kota pelabuhan Mariupol Vadym Boichenko menyebutkan, hingga saat ini jumlah warga sipil yang meninggal di wilayah itu lebih dari 5.000 Ukraina mencoba mengumpulkan bukti kekejaman Rusia di pinggiran Kiev yang hancur.
Boichenko mengatakan, warga sipil itu meninggal dunia karena digempur bom dan bertarung di jalanan selama berpekan-pekan. Dari ribuan korban, sebanyak 210 adalah anak-anak.
Menurut Boichenko, pasukan Rusia membom rumah sakit, termasuk satu rumah sakit dengan korban 50 orang terbakar sampai mati. Dia mengatakan, lebih dari 90 persen infrastruktur kota telah hancur. Serangan terhadap kota strategis selatan di Laut Azov telah memutus makanan, air, bahan bakar dan obat-obatan serta menghancurkan rumah dan bisnis.
Selain itu, lebih banyak mayat belum dikumpulkan di Bucha. Laporan Associated Press menyatakan, melihat dua mayat di sebuah rumah di lingkungan yang sepi. Dari waktu ke waktu ada ledakan dari pekerja yang membersihkan kota dari ranjau dan persenjataan lain yang tidak meledak.
Sedangkan di sebuah pemakaman di kota Bucha, para pekerja mulai memuat lebih dari 60 mayat yang tampaknya dikumpulkan selama beberapa hari terakhir ke dalam truk pengiriman bahan makanan. Mayat tersebut diangkut ke fasilitas untuk penyelidikan lebih lanjut.
Polisi mengatakan mereka menemukan sedikitnya 20 mayat di daerah Makariv sebelah barat Kiev. Di desa Andriivka, penduduk mengatakan Rusia tiba pada awal Maret dan mengambil telepon penduduk setempat. Beberapa orang ditahan, kemudian dibebaskan.
Sedangkan yang lain mengalami nasib yang tidak diketahui. Beberapa lainnya menggambarkan berlindung selama berpekan-pekan di ruang bawah tanah yang biasanya digunakan untuk menyimpan sayuran untuk musim dingin.
Istana Kremlin tegas menyatakan pasukannya tidak melakukan kejahatan perang, menuduh bahwa gambar dari Bucha dibuat-buat oleh Ukraina. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov informasi palsu di Bucha membuat pembicaraan damai semakin sulit.
Sedangkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan, rekaman video yang menunjukkan mayat warga sipil bergeletakan di kota Bucha pasca pasukan Rusia mundur merupakan serangan berita palsu. Dia menegaskan, gambaran tersebut bertujuan meningkatkan sentimen anti-Rusia.
Sementara itu, pemerintah Ukraina mengatakan kuburan massal yang digali di sebuah gereja di kota itu berisi sekitar 150 hingga 300 jenazah.
Staf Jenderal Angkatan Bersenjata Ukraina mengatakan Rusia siap menggelar serangan penuh untuk menguasai wilayah-wilayah bagian timur Ukraina yang memisahkan diri, Donetsk dan Luhansk. Moskow juga melanjutkan kepungan di Kota Mariupol di mana puluhan ribu warga sipil masih terjebak di dalamnya.
Pihak berwenang Ukraina mengatakan mereka tidak dapat membantu masyarakat melakukan evakuasi atau mengirimkan bantuan kemanusian ke medan pertempuran di sebelah timur Kota Izyum. Karena masih dikuasai Rusia sementara pertempuran di semakin buruk.
Banyak masyarakat di Kota Derhachi sebelah utara Kharkiv yang terletak dekat perbatasan Rusia, memutuskan untuk pergi. Gedung-gedungnya sudah hancur dihantam arteleri Rusia. Kharkiv sendiri hancur oleh serangan udara dan roket sejak awal invasi.
Mykola, ayah dua anak yang menolak menyebutkan nama belakangnya mengatakan setiap malam ia dapat mendengar pengeboman. Ia dan keluarganya terus-menerus berlindung di koridor rumahnya.
“(Kami akan pergi) ke mana pun yang tidak ada ledakan, di mana anak-anak tidak perlu mendengarnya,” kata Mykola sambil memeluk putranya dan menahan tangis.
Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi baru pada Rusia yang mengincar dua putra Presiden Rusia Vladimir Putin dan Sberbank yang memegang sepertiga total aset bank di Rusia dan Alfabank, institusi keuangan terbesar Rusia. Tapi tidak menjatuhkan sanksi pada transaksi energi.
“(Sanksi perbankan) pukulan langsung pada masyarakat (dan) warga biasa Rusia,” kata Duta Besar Rusia untuk AS Anatoly Antonov seperti dikutip kantor berita Tass.
Inggris juga membekukan aset-aset Sberbank dan mengatakan akan melarang impor batubara Rusia pada akhir tahun ini. Tapi Eropa kesulitan melakukan hal yang sama pasalnya 40 persen kebutuhan gas alam Uni Eropa berasal dari Rusia dan sepertiga kebutuhan minyaknya dipenuhi Rusia. Nilainya sekitar 700 juta dolar AS per hari.
Jerman yang merupakan perekonomian terbesar Rusia mengandalkan gas Rusia untuk kebutuhan energinya. Berlin memperingatkan walaupun mereka mendukung mengakhiri impor energi Rusia secepat mungkin tapi hal itu tidak dapat dilakukan dalam semalam.
Walaupun didera sanksi tapi rubel Rusia melanjutkan proses pemulihannya. Rabu (6/4) kemarin rubel berada di level sebelum invasi, mengabaikan kekhawatiran potensi utang internasional karena mereka membayar pemilik obligasi dolar dengan rubel.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyebut perang di Ukraina sebagai “salah satu tantangan terbesar bagi tatanan internasional” karena telah mempengaruhi miliaran orang di seluruh dunia.
“Analisis kami menunjukkan bahwa 74 negara berkembang, dengan total populasi 1,2 miliar orang, sangat rentan terhadap lonjakan biaya makanan, energi dan pupuk,” kata Guterres dalam pidatonya di Dewan Keamanan PBB.
Sekjen PBB mengatakan bahwa dunia “berurusan dengan invasi penuh” dalam “pelanggaran Piagam PBB, dan dengan beberapa tujuan, termasuk membentuk ulang perbatasan yang diakui secara internasional” antara Rusia dan Ukraina.
Guterres mencatat bahwa perang telah mengganggu rantai pasokan dan meningkatkan biaya transportasi, memberikan lebih banyak tekanan pada negara-negara berkembang.
“Orang-orang yang terjebak dalam krisis di seluruh dunia tidak dapat membayar harga untuk perang ini,” kata Guterres.
“Jauh di luar perbatasan Ukraina, perang telah menyebabkan kenaikan besar-besaran dalam harga makanan, energi dan pupuk, karena Rusia dan Ukraina adalah kunci dari pasar ini.Untuk semua masalah ini, kami lebih mendesak dari hari ke hari untuk menghentikan letusan senjata,” tambah dia.
Perang Rusia melawan Ukraina, yang dimulai pada 24 Februari, telah menimbulkan kemarahan internasional, di mana Uni Eropa, AS, dan Inggris menerapkan sanksi keras terhadap Moskow.***

Frans Gultom

Komentar