33 Pemberontak di Kongo Tewas dalam Operasi Militer

KINSHASA – Sebanyak 27 pemberontak , lima warga sipil dan seorang tentara tewas dalam operasi militer selama dua hari terhadap kelompok bersenjata terkenal di Kongo timur. Demikian pernyataan yang dikeluarkan pihak militer Kongo.

“27 anggota milisi CODECO yang terbunuh termasuk salah satu komandan utamanya, Malo-Maki,” kata Letnan Jules Ngongo, jurubicara angkatan darat Kongo untuk wilayah Ituri.

“Di antara penduduk sipil, lima orang tewas dan dipenggal oleh CODECO, sementara seorang tentara tewas dalam pertempuran itu dan seorang lainnya terluka,” imbuhnya seperti dikutip dari AFP, Rabu (24/3).

Ngongo mengatakan operasi militer itu diluncurkan pada Minggu setelah CODECO berusaha memutus jalan strategis, Highway 27, di kota perdagangan Iga-Barriere, hanya 25 kilometer dari ibu kota provinsi Ituri, Bunia.

CODECO – Kerjasama untuk Pembangunan Kongo – adalah sekte politik-agama bersenjata yang telah dikaitkan dengan lebih dari 1.000 kematian sejak Desember 2017.

Para ahli mengatakan sekte itu terdiri dari berbagai kelompok milisi yang mengklaim membela etnis Lendus di Ituri, provinsi kaya emas yang berbatasan dengan Uganda dan Sudan Selatan.

Lendu telah mengalami konflik bersejarah dengan komunitas Hema – puluhan ribu orang di kedua belah pihak tewas dalam perang kejam antara 1999 dan 2003.

Pertempuran itu diakhiri berkat misi militer Uni Eropa, Operasi Artemis.

Lendu telah mengalami konflik bersejarah dengan komunitas Hema – puluhan ribu orang di kedua belah pihak tewas dalam perang kejam antara 1999 dan 2003.

Pertempuran itu diakhiri berkat misi militer Uni Eropa, Operasi Artemis.

Namun pertumpahan darah kembali terjadi pada akhir tahun 2017, dimulai di wilayah Djugu sebelum menyebar ke arah timur hingga ke Irumu, Mahagi dan Aru.

COEDECO hanyalah satu dari sekitar 122 kelompok bersenjata yang berkeliaran di Republik Demokratik Kongo timur, banyak dari mereka merupakan warisan perang pada tahun 1990-an yang menyedot negara-negara dari sekitar Afrika tengah. ***

Frans Gultom

Frans Gultom

Tulis Komentar

WhatsApp