International Media

Kamis, 29 September 2022

Kamis, 29 September 2022

2573 tahun Kongzi : Jalan Tengah untuk Kemakmuran Bersama

Xs. Budi S. Tanuwibowo, Ketua Umum MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia).

Tanggal 27, bulan 8, tahun 2573 Kongzili atau Imlek – yang tahun ini bertepatan dengan 22 September 2022, merupakan ulang tahun Kongzi, Khonghucu atau Confucius ke 2573.

Beliau lahir bertepatan dengan tahun 551 sM. Tahun ini perayaan ulangtahun Kongzi secara nasional dilaksanakan oleh MATAKIN di Pontianak, dihadiri Wakil Presiden RI.

Setiap kali kita mengenang kelahiran tokoh-tokoh besar, sebaiknya kita tidak sekedar merayakan ulangtahunnya, tetapi juga mengkaji dan menyelami kembali jalan pikiran dan jejak langkah sang tokoh. Demikian juga ketika kita mengenang Kongzi, seorang nabi agung, nabi terakhir dalam agama Ru atau Khonghucu, yang juga dikenal sebagai filsuf agung dari Timur.

Suatu ketika Kongzi ditanya salah satu muridnya tentang pemerintahan yang baik. Beliau menjawab, “Cukup makan, cukup persenjataan (kuat pertahanannya) dan ada kepercayaan rakyat”. Ketika dikejar mana dari ketiganya yang terpenting, Kongzi menjelaskan bawah pemerintah – pemimpin yang dipercaya akan mampu menyatukan rakyat, mengajaknya untuk berjuang bersama melewati berbagai macam kesulitan.

Apa syarat agar seorang pemimpin bisa dipercaya? Pertama ia harus mendasari setiap langkahnya dengan Cinta Kasih atau Kemanusiaan.

Kedua mengutamakan Kebersamaan, sehingga akan terbangun Tepasalira. Ketiga menjunjung tinggi Keadilan, sehingga terbangun Persatuan. Keempat, lurus, jujur, satunya kata dan perbuatan.

Dan kelima setiap melihat Keuntungan selalu sadar akan Kebenaran.

Pemimpin yang berpericintakasih menjunjung tinggi Kemanusiaan tidak saja akan menjauhi kekerasan, tetapi juga serius dalam mendidik rakyatnya agar berbudiluhur, berkarakter unggul, mencintai keluarga, bangsa dan sesamanya.

Rakyatnya tidak hanya cerdas akalnya, tetapi baik hatinya, saling menolong dan peduli pada sesamanya. Bila mereka maju, tak segan membantu yang lain untuk maju. Suka berlomba secara jujur dan adil, tapi tak suka saling berebut dan berkomplot.

Mereka teguh berpegang pada prinsip, “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, tidak akan dilakukan kepada orang lain. Bukan hanya guyub sebagai keluarga bangsa, tapi mereka meyakini bahwa di empat penjuru lautan -dunia, semua manusia sejatinya saudara.

Bila seorang pemimpin selalu berpikir dan berbuat untuk kemaslahatan bersama, menjadi teladan hidup bertepasalira, niscaya akan terbangun persatuan yang kuat dalam negara.

Kekayaan negara tak menumpuk di tangan orang-perorang secara njomplang dan ekstrim, para pejabat menjadi contoh hidup wajar dan akan terbangun semangat gotong-royong yang dulu pernah menjadi kebiasaan kuat masyarakat Indonesia.

Kongzi menegaskas pentingnya Keadilan. Bila ada keadilan, tak akan ada persoalan kemiskinan, kekurangan orang dan akan terbangun perasaan sentosa.

Bila semuanya bisa terwujud dengan baik, tak ada rintangan yang perlu ditakuti karena niscaya akan diatasi bersama-sama. Bila sang pemimpin adil, niscaya rakyatnya tak segan ikut andil berkontribusi.

Dalam Pancasila sendiri kata dasar “adil” dianggap sangat penting sampai disebut dua kali dalam sila kedua dan kelima.

Hakikat memimpin, memerintah adalah meluruskan. Bila pemimpinnya lurus, jujur, siapa yang berani tidak lurus dan tidak jujur.

Kongzi berkata, “Kebajikan pembesar -pemimpin laksana angin, Kebajikan rakyat laksana rumput. Kemana angin bertiup, kesana rumput mengarah”.

Namun bila sang pemimpin tidak lurus, antara kata dan perbuatan tidak berkesesuaian, niscaya rakyat pun akan mengikutinya, seperti rumput yang mengikuti tiupan angin puting-beliung. Bila kata sudah kehilangan makna, janji tak bisa dipegang, maka ketidakpercayaan akan merebak kemana-mana, dan kehancuran negara tinggal menunggu waktu saja.

Kita sering iri dan tidak percaya bila mendengar berita bahwa rakyat di negara tertentu tidak akan mengambil barang yang bukan miliknya, meski tergeletak di pinggir jalanan sepi.

 Tapi itulah yang seharusnya terbangun dan terjadi. Bila setiap orang sadar untuk melihat kebenaran ketika melihat keuntungan, niscaya korupsi tidak akan terjadi. Bila sampai terjadi pun, ketika terbongkar, akan terbangun rasa malu yang luarbiasa.

Rasa Tahu Malu amat penting bagi manusia, terlebih bagi para pejabat publik yang menjadj abdi rakyat. Bila setiap pejabat menghayatinya, niscaya tidak akan terjadi korupsi, dan kekayaan negara akan terdistribusi luas bagi kemakmuran rakyat.

Menyimak pemikiran dan nasihat-nasihat Kongzi, rasanya masih sangat relevan dengan kehidupan di zaman ini, dan bisa diteguhkan dalam manajemen pemerintahan maupun kehidupan bermasyarakat.

Sebuah negara tak akan kokoh kuat jika tak ada Cinta Kasih Kemanusiaan, melupakan Kebersamaan, mengabaikan Keadilan, Kelurusan menjadi barang langka dan Keuntungan menjadi rebutan. Pada keadaan ini orang akan mengambil jalan dan caranya sendiri-sendiri, yang penting ia untung, selamat dan menang.

Ketika satu kemenangan terbangun atas kekalahan dan penderitaan banyak orang, lambat atau cepat niscaya akan menimbulkan ledakan kebencian yang masif. Konfrontasi frontal.

Bila ini terjadi, tak akan ada satu kekuatan pun yang bisa dan mampu mencegahnya. Maka sejak awal kita harus sadar untuk membangun budaya Kolaborasi, bukan konfrontasi. Jalan Tengah, yang bisa diterima secara luas.

Tanpa ada kolaborasi -rasa kebersamaan, tidak saja berbahaya, tapi sesuatu yang terbangun menyembunyikan bom waktu. Jalan yang ekstrim ke kiri atau ke kanan -apalagi jalan zig-zag yang menabrak kanan-kiri, meski terlihat cepat, menimbulkan luka-luka yang sulit disembuhkan.

Jalan Tengah mengelimir luka-luka yang tak perlu, karena merupakan resultante kebersamaan.

Jalan Tengah atau Jalan Moderasi inilah yang harus kita bangun dengan kesadaran penuh jika kita menginginkan Kemakmuran yang sejati. Jalan Tengah ini tidak saja dianjurkan

Kongzi, tapi sebenarnya juga diajarkan dalam setiap agama. Kongzi lanjut menegaskan, “Bila dapat terpelihara Tengah dan Harmonis, kesejahteraan akan meliputi langit bumi, segenak makhluk dan benda akan terpelihara”. Mampukah Jalan Tengah ini terwujud?

Mampu, kalau ada pemimpin atau kepemimpinan yang teguh menerapkan melaksanakan kelima persyaratan yang telah dipaparkan di awal tulisan ini. Semoga!

Sukris Priatmo

Komentar

Baca juga